Sabtu, 23 Juli 2011

My life is pain

Annyeong semua ~~
Latte kali ini adalah Fiction Latte ..
Jadi, cerita di bawah ini hanyalah cerita nyata yang sangaaaaaaaaaaat didramatisir..
oya, X itu cewek dan Y itu cowok yaa ^^

So, ENJOY THIS FICTION LATTE ..
yummy :9

My Life is Pain !


              
Pernahkah kau berfikir betapa beruntungnya dirimu… Pernahkah kau berfikir betapa indahnya dunia yang kau nikmati ini… Sungguh, kau begitu beruntung… Jika saja aku seberuntung dirimu.
                “X, main lompat tali yuk~” seorang anak perempuan menarik tanganku. Aku melepaskan tangannya dan menggelengkan kepalaku sambil tersenyum. Anak perempuan itu menatapku sebentar dan kembali berlari menghampiri anak perempuan yang lain. Aku melihat tawa kebahagiaan diantara mereka. Seandainya aku bisa ikut bermain dan tertawa bersama mereka. Seandainyaa~~
                “X~,” seseorang menepuk pundakku yang membuatku reflek menengok ke belakang.
                “Y?” Tanyaku begitu melihat siapa yang menepuk pundakku.
                “Kau tidak ikut bermain?” Tanyanya menatap anak-anak perempuan yang sedang bermain. Untunglah dia menatap mereka. Aku tidak mau dia melihatku yang tengah tertunduk ini.
                “kenapa?” Tanyanya tibatiba. Wajahnya tepat berada di depan wajahku. Begitu dekat hingga aku bisa mendengar detak jantungnya. Detak jantung yang baik.
                “tidak kok~” kataku mencoba tersenyum. Dia terus menatapku dengan tatapan yang tidak aku ketahui maknanya. Dia kembali duduk di sebelahku dan menghela nafas.
                “kau bohong, X~,” Y mengatakan itu sambil berlalu pergi. Mianhae Y, aku tahu kau begitu mengkhawatirkanku. Tapi aku tidak ingin membuatmu lebih khawatir dengan keadaanku ini. OMO~ kenapa semua terlihat buram? Kenapa Y menatapku panik begitu? Dan kenapa para anak perempuan itu berlari menghampiriku dengan wajah yang tidak kalah panik seperti itu? Ahh, hal ini terjadi lagi~
***
                Aku membuka mataku perlahan. Dan benar saja, aku berada di rumah sakit, seperti biasa.
                “X~, kau sudah sadar?” Tanya kedua orang tuaku yang hampir berbarengan. Aku hanya dapat menjawabnya dengan senyumanku. Walaupun masih terlihat sangat khawatir, orang tuaku mencoba tersenyum padaku. Ibu… Ayah… Aku beruntung memiliki orang tua seperti kalian yang tidak pernah bosan membawaku ke rumah sakit ini.
                “X~, hemoglobinmu turun lagi. Kau harus istirahat yang cukup….” Dokter Kim yang memang adalah dokter langganan keluargaku ini menasihatiku. Aku hanya dapat membalasnya dengan senyuman.
                “Oh ya, besok kamu tidak boleh sekolah. Kamu harus istirahat di rumah dan bla bla bla hingga bla bla…” nasihat dokter Kim begitu panjang dan aku sudah bosan mendengarnya. Aku tahu dok, aku tahu bahwa duniaku memang hanya di rumah. Aku sangat mengerti dan karena itu lah aku tidak membantah setiap perkataanmu dok. Hanya saja…
                “X~ !” seorang anak lakilaki menghampiriku. Nafasnya begitu terengah-engah membuatku berfikir bahwa dia telah berlari dengan jarak yang jauh dalam waktu singkat.
                “ada apa Y?” tanyaku masih dengan tersenyum.
                “HENTIKAN! Hentikan senyum tegarmu itu X! Aku tahu kau tidak setegar itu. Aku tahu senyum itu hanya untuk menutupi kerapuhanmu, X. Aku tahu.. Aku tahu..” katanya sambil terisak-isak. Aku hanya dapat menatap iba Y.
                “X~, kau selalu berkata ‘kau tidak boleh putus asa, Y. Kau harus berjuang!’ saat aku terus di bully mereka. Kau selalu menyemangatiku saat aku berjuang melawan mereka hingga kini mereka tak lagi membullyku. Kini, aku akan menyemangatimu agar kau dapat berjuang melawan semua penyakit ini, X~.” Kata Y masih dalam keadaan terisak-isak. Aku hanya tersenyum, kepolosannya dan tingkahnya yang kadang masih seperti anak kecil ini akan membuatku rindu padanya. Tanpa kusadari, air mataku mengalir di pipiku. Aku terus menatap Y, dan berharap tak akan pernah kehilangannya.
                Deg!
                Uh, kenapa mesti disaat seperti ini?
***
                “Y~” panggilku perlahan menatap Y yang tengah tertidur, “Y, kau benar. Aku tidak setegar itu. Seharusnya aku tidak memendam ini sendirian. Selama ini, aku hanya sembunyi di balik senyum tegarku ini. Aku selalu tersenyum di depan teman-temanku. Teman-temanku? Sampai saat ini, mereka tidak tahu bahwa aku menderita penyakit sebanyak ini. Mereka selalu mengajakku bermain hingga aku selalu ngedrop begitu sampai rumah. Tapi aku tidak pernah menyalahkan mereka. Merekalah bintang yang terus menyinari kehidupanku. Tanpa mereka, mungkin aku akan bernasib lebih menyedihkan dari ini.”
                Aku menyeka air mata di pipiku, “Mungkin aku memang tidak begitu berarti bagi mereka. Aku tidak pernah mendapatkan hal spesial dari mereka bahkan terkadang mereka mengabaikanku. Dan kau tahu Y, terkadang mereka lebih memilihmu daripada diriku. Mungkin karena kau selalu ceria dan menyenangkan. Sedangkan aku? Aku hanya menerima keadaan saja, aku tidak pernah bisa membuat suasana lebih baik. Aku pun selalu gagal menghibur mereka hingga akhirnya harus kau yang mengambil alih. Terkadang, bukan, aku sering iri padamu. Kau selalu mendapat tempat di hati mereka. Aku sering kesal padamu dan sering berharap kau akan mendapat keburukan. Tapi biarpun begitu, kau selalu dihibur dengan mereka. Mereka selalu memilihmu. Mereka tidak pernah memilihku.”
                Kali ini, aku membiarkan air mataku mengalir begitu saja, “Kau memang sempurna Y. Kau adalah bintang mereka. Aku? Aku? Mungkin aku begitu jahat, aku tidak pantas mendapat perhatian mereka bahkan dirimu. Hmm, begitu banyak kekuranganku ini. Dan aku tidak pernah menyesalinya. Dengan kekuranganku ini, aku bisa bertemu denganmu dan mereka. Kalian akan terus bersinar dalam hatiku sampai kapanpun. Walaupun… kita tidak bersama lagi. Selamat tinggal Y~”
                Aku membelai rambut Y yang begitu lembut dan akan selalu aku rindukan ini, “Sampaikan maafku pada mereka ya. Maaf karena tidak bisa menjadi sahabat yang baik,” Aku mulai melangkahkan kakiku perlahan. Selamat tinggal Y, semoga sinarmu bisa menyinari lebih banyak lagi kehidupan. Selamat tinggal teman-teman, semoga tidak ada lagi yang kalian perlakukan dengan tidak istimewa. Cukup aku saja~ Memang hanya aku yang tidak pantas mendapat perlakuan istimewa kalian. Aku berharap tidak ada lagi yang terlahir sepertiku, anak perempuan yang tidak berguna dan penyakitan. Selamat tinggal dan Maaf~~

******
                “Syfa~” panggil keenam anak perempuan dan anak perempuan yang bernama Syfa itu berlari menghampiri mereka. Y melihat anak perempuan itu dengan tatapan yang pernah ia berikan pada X.
                “Semoga nasib anak perempuan itu tidak setragis X~”


~ppyong :*

1 komentar:

akira's world mengatakan...

pas baca ini cerita.. gw langsung pasang muka songong..

bingung yg mana yg 'y' mana yg 'x'
mana yg lg ngomong
mana yg lg diajk ngomong

hahaha

*maklum, sindrom lemot

Posting Komentar