Minggu, 24 Maret 2013

Senyuman


Malam itu aku hanya terdiam di kamarku.
Menatap sendu laptopku sambil memakai headset.
Sengaja aku membesarkan volume mp3 di laptopku.
Sesekali mataku beralih pada sebuah handphone yang tergeletak disamping laptopku.
Tanganku segera mengambilnya begitu ia bergetar.

Ddrrttt..
Dengan sigap aku mengambil handphone itu.
Membacanya perlahan dan membalasnya.
Mungkin ia menyadari keanehan itu dan mulai bertanya ada apa.
Aku hanya menjawab bahwa aku hanya ingin keluar.
Ia menurutiku dan segera menjemputku.

Aku melihatnya.
Ia melihatku dan melambaikan tangannya.
Aku hanya tersenyum dan menghampirinya.

Sepi.
Itulah suasana saat itu.
Yang terdengar hanyalah suara hujan rintik-rintik yang membasahi jalan.
Aku sedang tak ingin bicara dan sepertinya ia mengerti itu.
Setelah beberapa lama, ia pun mulai berbicara.
“Teriaklah.. Teriakkan semua uneg-unegmu,”
Aku pun hanya memelototinnya seakan berkata “apa kau gila?”

Diam.
Suasana kembali hening.
Hingga kami tiba di tempat yang dituju, warteg nasi goreng.
Seperti biasa, kami duduk bersebelahan.
Ia memesankan pesanan kami dan aku hanya menatap jalan.
“kau bisa cerita padaku kalau kau mau,” suara itu cukup membuatku menoleh padanya.
Aku pun mulai bercerita padanya walaupun hanya singkat.
Seakan mengerti ia pun berkata, “hanya itu? Ku yakin masih ada lagi yang ada dipikiranmu,”
Aku pun hanya menyembunyikan kepalaku diatas meja itu, “intinya begitulah,”
“Makanya jadi orang jangan kepo tingkat tinggi,” ucapan itu sukses membuatku mengangkat kepalaku dan menatapnya, “apa maksudmu?”
Ia tersenyum seakan mengejekku yang membuatku mendorongnya, “dasar nyebelin,”
Sambil berusaha menyeimbangkan posisi duduknya yang rawan jatuh akibat doronganku, ia tersenyum padaku.
Bukan senyuman ejakan seperti sebelumnya.
”Biarin nyebelin, seenggaknya kau bisa tertawa lagi,”
Kalimat itu… sukses membuatku membeku sesaat.
Tak bisa ku pungkiri, senyumku kembali mengembang saat itu..

Benar, senyuman bisa mengobati segalanya J
Terima Kasih telah mengingatkanku J

Dear Blog


Dear my blog,
Apakah aku selalu mengganggumu dengan cerita-ceritaku?
Apakah kau merasa kehadiranku membuatmu susah?
Apakah aku salah selalu mengunjungimu untuk mencurahkan segalanyaa?

APA BLOG!! JAWAB!!

Kenapa kau tidak menjawabnya?
Kenapa kau tidak mengatakannya didepanku?
Kenapa kau harus mengatakannya dibelakangku?
Haruskah kau bercandaria saat aku tak ada? Sebegitu mengganggunyakah diriku padamu? Sebegitu ga pentingnyakah arti kehadiranku bagimu?

Kau segalanya bagiku..
Kau tempatku mencurahkan apapun pertama kalinyaa..

Tapi apa?! Aku hanya mengganggumu! Aku hanya sekedar angin yang segera kau tunggu keberhentiannya..

Baiklah kalau itu memang maumu, aku akan menurutinya..
Sebisa mungkin, aku tidak akan mengunjungimu..
Sesedikit mungkin, aku bercerita padamu..
PADAMU, blog (nama samaran)

Sabtu, 16 Maret 2013

Love Rain


LOVE RAIN



Bagi pecinta drama korea pasti sudah tau dong tentang drama Love Rain?
Drama yang mengisahkan kisah cinta tahun 1970-an yang terus berlanjut hingga masing-masing telah memiliki anak yang ternyata juga saling mencintai. Kisah yang romantis di tengah hujan membuat siapapun yang mengalaminya berharap hujan tidak akan pernah berhenti.

Aku mempunyai sebuah kisah. Mungkin tidak seromantis kisah tengah hujan yang ada di Love Rain, namun kurang lebihnya mirip yang ada di drama itu.

Kamis, 14 Maret 2013

Honesty~


Honesty
Jujurlah, cinta butuh itu!

Itu adalah judul novel yang telah ku baca. Setelah membaca novel itu, terbayang sesuatu dipikiranku.

JUJUR !
Menurutmu, mengapa cinta butuh kejujuran?

CINTA? Okeh, itu untuk yang sudah cukup dewasa. Untuk kita mungkin baru sebatas SUKA.
Kembali ke pertanyaan, mengapa suka butuh kejujuran? Apakah kau harus jujur dan mengatakan suka setiap kali kau merasakannya?

Aku pernah melakukannya..
Dan sampai saat ini belum ada yang menghasilkan suatu akhir yang bahagia..

Rabu, 13 Maret 2013

Harapan?


Harapan?
Menurut kalian apa itu harapan?
Terus kenapa harus ada istilah ‘Pemberi Harapan Palsu’?
Jadi sebenarnya harapan itu apa?

Menurut beberapa sumber yang gua dapat, gua simpulkan klo Harapan dalam konteks ‘cinta’ itu saat seseorang memperlakukan seseorang lain seolah-olah ia siap menangkapnya begitu ia jatuh. Kenapa sampai ada istilah ‘palsu’ dalam PHP? Mungkin itu saat seseorang itu ternyata tidak siap menangkap seseorang lain begitu orang lain itu jatuh. Ia seakan merentangkan tangannya untuk menangkap seseorang itu. Namun rentangan tangannya itu hanyalah sebuah rentangan tangan biasa yang bahkan tidak dimaksudkan untuk menangkap apapun.

Alami? Ya, hal itu alami bagi seorang cowok.

Senin, 11 Maret 2013

59 Menit


59 Menit..

Rekor kali ini berhasil aku pecahkan. Ini adalah panggilan masuk terlama yang pernah aku sadari. Ini pun karena setiap sejam operator akan mematikan panggilan. Kalau saja operator tidak melakukannya, mungkin panggilan itu akan bertahan lebih lama.

Bertahan lebih lama?
Aku harap aku bisa bertahan lebih lama atas apa yang kau katakan disana. Dengan suara getir aku mencoba menanggapi setiap perkataannmu. Memang sulit melakukannya terlebih aku tidak boleh menunjukkan betapa sedih dan hancurnya aku. Berusaha memelankan suaraku pun menjadi salah satu cara menutupinya.

Kalian tahu apa yang dikatakannya?
He said that we're too contrast. Apakah kalian pikir itu logis? Mungkin menurutmu itu logis. Tapi tidak denganku. Aku merasa itu kurang kuat. Bayangkan, hanya karena aku suka jalan-jalan dan bepergian sedangkan kau lebih senang duduk manis dirumah kau berkata kita terlalu berbeda.

Sabtu, 09 Maret 2013

51 Menit 47 detik


51 menit 47 detik ~
Durasi yang cukup lama untuk hanya sekedar berkata suka.

Lelaki itu dengan seenaknya menelponku begitu aku berpesan bahwa SMS itu tidak seru karena tidak ada ekspresinya. Tidak kah ia tau betapa jantungku berdebar begitu melihat panggilan darinya. Berusaha mengurangi sedikit grogi, aku pun menerima panggilan itu. Tak tanggung-tanggung, aku segera memprotes panggilan telpon itu padanya. Ia pun hanya menjawab dengan menyebutkan pesanku mengenai SMS yang tidak seru itu.

Aku nunggu lho~

Kalimat itu sukses membuat jantungku berdetak berkali-kali lipat dibanding biasanya. Aku pun hanya bisa tertawa menutupi rasa grogiku. Ia pun bertanya mengapa aku tertawa. Dengan jujur akupun mengaku bahwa aku grogi. Kini tawa terdengar dari seberang telpon. Ia menertawakanku.

Jadi siapa?