Jumat, 21 Juni 2013

Lost


inspired by : Nicole - Lost.mp3



Your footprints and your scent,

I still feel it close by.

From that time I first met you,

I believe in destiny.
         
               “Hei kamu,” seorang lelaki tiba-tiba menegurku. Aku tidak mengenal lelaki itu, sepertinya ia kakak tingkatku. Aku pun akhirnya hanya memandangnya.
                “Oh jadi kamu yang namanya Rial. Aku kira kamu cowok, maaf ya,” Lelaki yang bahkan tak ku kenal itu tersenyum padaku. Senyum itu terasa menyegarkan saat disandingkan dengan keeksotisan kulitnya.  Suara itu terdengar begitu ramah dan menyenangkan. Sebenarnya siapa ia?
                “BTW, ini benar nomor handphonemu kan?” kini lelaki itu menunjukkan handphonenya dan disitulah ada nama dan nomor handphoneku. Lelaki ini semakin membuatku penasaran. Bingung harus menjawab apa, aku pun hanya mengangguk dan tersenyum. Entah kemana jiwa frontalku pergi saat itu.
                “Al~” Aku mendengar namaku dipanggil dan benar saja itu adalah suara kakak tingkatku sekaligus kakak satu kosanku. Aku pun tersenyum pada lelaki itu dan segera meninggalkannya. Sungguh saat itu aku tak ingin meninggalkannya.
                “Cie yang lagi mengobrol dengan Fian.” Aku terbengong begitu mendengar nama itu. Fian? Apakah itu nama lelaki tadi? Aku semakin penasaran dan ingin mengenalnya lebih jauh.




Confined inside this room on my own,
It is only time that passes.
Where ever I see and walk,
You’re right there beside me.



                Aku hanya bisa berjalan perlahan. Pikiranku sedang kacau saat ini. Aku rasa tingkat kesensitifitanku sedang berada di level paling atas. Bagaimana bisa aku kesal dengan teman-teman kosanku hanya karena hal sesepele ini. Sesekali aku pun menendang batu-batu kecil. Aku jadi merasa tak enak dengan Fian. Aku yang sedang ingin merelaksasikan pikiranku dan ia yang terpaksa menemaniku.
                Perjalanan menuju tempat makan terasa begitu jauh. Ku biarkan Fian berjalan di depanku. Ia sama sekali tidak mengajakku berbicara. Sesekali ia hanya menengok ke belakang memastikan aku masih di dekatnya.
                “Jika kau ingin meneriakkan segala pikiranmu, keluarkan saja disini. Disini cukup sepi,” tiba-tiba saja ia mengatakan hal itu sambil menyejajarkan tubuhnya disampingku. Sontak saja aku segera memandangnya dengan pandangan apa-kau-gila. Melihat ekspresiku, ia hanya tertawa kecil takut aku akan tersinggung padanya.
                “Hahaha, dasar menyebalkan,” aku tak kuat melihatnya berlaku seperti itu.
                “Lebih baik dibilang menyebalkan asalkan kamu bisa tertawa lagi,” Langkahku mendadak terhenti. Kakiku mendadak tidak dapat digerakkan. Ia sempat memandangku heran dan aku hanya bisa terdiam tanpa kata. Fian memang paling bisa menenangkanku.


Rabu, 05 Juni 2013

SIWON !!

3 Juni 2013

Semua berawal dari mata kuliah ‘Algoritma Pemrograman’ yang memusingkan sehingga membuatku dan kawanku lebih menyukai menggunakan fasilitas laboratorium yaitu ngenet gratis. Kami pun menyampah ria di twitter. Sedang asyik bermention ria tiba-tiba Siwon update bahwa ia akan ke Pacific Place pukul 13.30. Dengan antusiasme yang tinggi, aku dan kawanku memutuskan untuk pergi kesana begitu sesi 2 selesai.

“Baik, pertemuan hari ini saya akhiri sampai disini. Wassalamu ‘alaikum WR. WB”

Cus~ kami pun segera berlari menuju lift dan capcus menuju shelter busway. Dengan still yakin, kami pun naik busway jurusan grogol dan menunggu shelter polda terlihat. Semanggi, senayan, slipi petamburan~ shelter polda tak kunjung terlihat. Melihat kami yang kebingungan, seorang bapak bertanya mau kemana. Mendadak kami shock begitu mengetahui kami salah naik bus yang harusnya naik bus jurusan blok M.
Waktu telah menunjukkan pukul 13.30. Tanpa pikir panjang kami segera keluar dari shelter dan mencari ojek. Dewi fortuna juga belum menghampiri kami, tukang-tukang ojek yang ternyata tidak mengetahui dimana pacific place itu menyuruh kami membayar lebih sebesar Rp. 20.000,- Ojek apaan itu? Dia yang nyasarin kami eh dia malah minta kami bayar lebih? Kalau bukan karena Siwon, tak sudi deh.

Pacific place kini telah di depan mata. Begitu besar dan mewahnya Pacific place membuat kami yang masih mengenakan segaram terlihat begitu kontras. Setelah sempat dikira anak sekolah, kami pun memasuki pacific place. Baru saja keluar dari lift di lantai 4 kami sudah melihat keramaian di depan salah satu restoran. Awalnya kami begitu heran, namun begitu membaca tweet Siwon bahwa ia di restoran itu kami pun segera kesana dengan semangat dan antusiasme yang tinggi. Tiba-tiba saja semua yang tadinya duduk tenang mulai berdiri dan berteriak histeris, Siwon telah muncul. Dengan menggunakan tekhnik leher jerapah, aku berusaha mencari dan melihat Siwon diantara kerumunan yang menghebohkan ini. Sekali lagi dewi fortuna tidak  mendukungku. Aku tidak bisa melihatnya yang ternyata telah turun menggunakan lift dalam restoran.




HUWAAA SIWON~ TT.TT
Kapan aku bisa melihatmu secara langsung?
Temanku bahkan telah melihat senyummu secara langsung, mengapa aku tidak?

AAHHHHHHHH!!!

Tunggu saja, aku pasti akan melihatmu secara langsung suatu saat!!



Sabtu, 01 Juni 2013

Dear you

Dear you,
it's really hard to forget you. I think, almost all of my free-time I think of you, not a serious think but just some simple think, "what are you doing now" or "where are you now?"


Dear you,
when I have a problem, my mind show me of you. You always can give me simple-but-right advice or solution.


Dear you,
when I have problem or have a bored day, you always there to listen my stories.


I'm fine if I don't have that status, but I don't want to lose your care. 
I really miss that care and I want to feel it right now.


I need your care not as boyfriend but just as brother.

Rabu, 22 Mei 2013

VENICE - la mia avventura, il mio amore~

Annyeong~
aku punya cerita yang dari dulu masih aku sukaa...
Ini cerita eonni ku sih *ijin ngeshare yaa eonni*..
Eonni ku ini emang pembuat cerpen korea yang daebak !!

So, enjoy it ^^

VENICE - la mia avventura, il mio amore~


'sial! dimana ia sebenarnya? ia ingin membunuhku secara tak langsung, huh?' umpatku berulang kali. kubuka tutup flip ponselku yang nyatanya tak dapat digunakan di area luar Korea. kutatap dalam-dalam sebuah tulisan besar yang berada tepat di hadapanku. VENICE MARCO POLO INTERNATIONAL AIRPORT. mimpiku selama bertahun-tahun untuk menjejakkan kaki di tempat ini, kini telah terwujud dengan berbagai pengorbanan yang kulakukan. namun bagaimana bila mimpimu selama ini berubah menjadi mimpi buruk yang tak pernah kau bayangkan seperti sekarang? Ya, aku terobsesi untuk bertemu dengan Nikki Lee. Teman chattingku melalui dunia maya. Hahahaha, cukup tak masuk akal memang. bagaimana bisa aku jatuh hati pada seseorang yang belum pernah kutemui langsung? Bahkan fotonya  pun hanya terlihat samar saja. Tetapi ntahlah, aku merasa jika kami sangatlah akrab bahkan melebihi keakrabanku pada beberapa teman dekat. dan aku pun tak tahu, bagaimana caranya aku dapat mengenal ia sedekat ini. Dan sepertinya ia telah menipuku, ia hanya bermain-main saja untuk menawariku berlibur bersamanya di Venice. Dan dengan bodohnya, aku langsung saja menerima tawaran Nikki dan di dalam pikiranku hanya ingin bertemu dengannya. 'rasakan akibat kebodohanmu, Sunhee-ya!' rutukku terus menerus.

Nikki Lee, sosok yang aku banggakan pada seluruh sahabatku. ia adalah satu-satunya teman dekatku di dunia maya yang berasal dari luar negeri. Italia lebih tepatnya. siapapun akan bangga sepertiku! dengan bekal kemampuan berbahasa inggris yang minim, aku dapat berkomunikasi secara lancar dengannya. meskipun aku sadar, mungkin cukuplah sulit ia memahami gramarku yang sungguh di bawah rata-rata. kalian pasti bertanya-tanya, bagaimana aku yakin jika Nikki benar-benar berasa dari Italia? karena kerap kali ia memamerkan foto bayangan dirinya di tepi Grand Canal, sungai utama yang membelah kota Venice. salah satu tempat impian yang sangat ingin kukunjungi.

'bagaimana ini? aku sama sekali tak memiliki saudara ataupun teman di sini selain Nikki yang sama sekali tak ku ketahui asal-usulnya! apakah aku harus kembali ke Korea pada penerbangan selanjutnya, dan menghapus seluruh kesempatanku untuk menjelajah tempat impianku dan menyia-nyiakan usaha eomma mengumpulkan uangnya untuk biaya kemari?' aku membenamkan kepalaku diantara kedua lututku, dan berusaha untuk berfikir dengan jernih untuk mengambil keputusan yang cukup berat bagiku. kubulatkan tekadku untuk menjelajah kota Venice seorang diri, tanpa mengharap Nikki untuk menemaniku. 'Nikki-ya, kau brengsek!'


Selasa, 21 Mei 2013

Pertemuan itu


Saat itu aku berjalan perlahan sambil membayangkan apa yang akan terjadi. Bayangan itu sudah ada sejak awal namun tak bisa ku bayangkan bagaimana reaksiku mendengar hal itu. Kulihat lelaki itu telah duduk disana, ditangga depan Auditorium. Sambil menghela nafas, aku datang menghampirinya dan duduk disebelahnya.

Suasana saat itu hanyalah hening. Dan ia memecah keheningan itu.

“Kau masih menyukaiku?” Spontan aku segera memandangnya.

“Bukankah aku pernah mengatakannya?” Aku kembali memalingkan wajahku.

“Iyaa, kau pernah mengatakannya duluuu dan hanya sekali. Ibarat makanan itu sudah kadaluarsa.” Ia diam 
sejenak, “Ayo, jawabanmu menentukan segalanya,”

“Iyaa masih,” dengan singkat aku menjawabnya. Namun ia tidak puas hanya dengan mendengar jawabanku itu.

“Masih aja atau masih banget?” Sungguh rasanya ingin ku bunuh lelaki ini.

“Masih banget,” dengan berat aku menjawabnya.

Ia kini mengeluarkan laptop dan mengetik sesuatu yang kemudian ditunjukkannya padaku.

‘Bisa lupakan aku?’ Deg, dugaanku benar.

“Tergantung kakak” Ia kembali mengetik sesuatu di laptopnya.

‘Maaf kalau selama ini aku jutek denganmu. Aku sudah berusaha mencoba tapi tidak berhasil. Aku janji tidak akan jutek lagi denganmu asalkan kamu bisa janji 1 hal. Lupakan aku,’ Aku tidak dapat membayangkan ekspresiku saat itu. Dan ia pun kembali mengetik sesuatu.

‘Kamu boleh benci denganku, kamu boleh memakiku, kamu boleh cerita dengan teman-temanmu kalau aku jahat. Tapi jangan menyangkutkan masalah ini dengan Saburai. Jangan hanya karena ini kalian tidak ingin datang rapat dan berhubungan dengan Saburai. Ini masalah kita bukan masalah Saburai.’

“hahaha, lebay banget deh. Ya tidak lah, aku bisa membedakan masalah kok,” sontak saja aku tertawa membaca hal itu. Ia pun kini menutup laptopnya dan mulai memandangku.

“Ada yang ingin kau tanyakan?” Pertanyaan itu membuatku berpikir. Aku telah membayangkan hal ini sebelumnya, tapi kenapa aku tak bisa mengeluarkan kata-kata ini sekarang.

“Sebenarnya kenapa kau jutek padaku?” Hanya itu yang terlintas dipikiranku saat ini.

“Untuk memutuskan harapanmu,” Ia diam sejenak, “Sebenarnya aku tak ingin jutek denganmu. Aku juga berat untuk mengatakan hal ini, tapi aku terus saja didesak teman-temanku untuk mengatakannya sesegera mungkin. Bahkan salah satu temanku mengatakan bahwa ia akan merebutmu dariku. Aku hanya berkata, ‘ambil saja, biarkan aku yang sakit dan dibenci daripada dia. Buatlah ia bahagia dan segera melupakanku,’”

Sungguh saat itu aku ingin sekali menangis. Bukan menangis sedih namun menangis terharu. Aku tak menyangka dibalik sifatnya yang konyol ada sisi seperti itu.

“Aku mengatakan ini baru sekarang karena aku juga memikirkanmu. Aku harap dengan aku jutek denganmu kamu dapat dengan mudah melupakanku. Kau boleh galau karena lelaki, tapi kau tidak boleh menangisinya. Lelaki itu tidak seberharga itu untuk ditangisi,”

“Lalu, bagaimana cara melupakan seseorang?” Aku ingin sekali mendengarkan pendapatnya akan hal ini.

“Kalau untukku, cari kesibukan sendiri dan bermain bersama teman-teman tanpa membicarakan orang yang digalaukan,”

“Sekarang gini, gimana aku bisa tidak membicarakanmu sedangkan setiap aku bertemu dengan teman-temanku mereka selalu bertanya tentang perkembanganku denganmu,”

“Ahh, iya juga yaa. Mungkin kau butuh cara lain,”

“Temanku pernah bilang untuk mencari yang baru. Namun kesanku saat mendapat yang baru adalah seperti pelampiasan karena tidak mendapat yang lama. Dan jujur, awal denganmu juga seperti pelampiasan menurutku,” Ia pun kaget mendengarku. Akhirnya aku pun jujur tentang hubunganku dengan seseorang sebelum dengannya. Obrolan kami pun berlanjut dengan acara curhat dan canda-canda seperti biasanya.


Okeh, itu cerita formalnya dan sekarang gua pengen ngomong dengan informal.

Gua heran, dari kejadian itu berlangsung hingga sekarang gua ga terlihat sedih dan bahkan gua ga nangis. Sekarang gua malah galau. Kejadian itu ibarat pacaran adalah sesi putusnya dan harusnya gua sedih. TAPI KENAPA TIDAK?

What’s wrong with me? Apa karena gua telah membayangkan hal ini yang bakal terjadi? Atau jangan-jangan gua itu sebenernya ga suka sama dia, dan ini hanya pikiranku saja yang mengatakan ini suka?

Bahkan teman gua ga percaya tentang kejadian ini karena gua cerita tanpa ada ekspresi sedih. Jadi ini apaan? Waktu dia bilang untuk ngelupain dia, gua emang sempat kaget namun gua ga ngerasa itu jleb. Dia bahkan menyangka bahwa pertemuan itu akan tejadi pertumpahan air mata dan pertumpahan perasaan, dan hal itu tidak terjadi. Pertemuan itu hanya awalnya saja yang serius setelahnya kami tetap bisa tertawa-tawa.

JADI INI SEBENARNYA ADA APA?

~ppyong

Minggu, 12 Mei 2013

Cinta Tyrannosaurus



“Ma, nonton Cinta Brontosaurus yok~”
“Filmnya Raditya Dika itu?”
“Iyaa, nonton yok…”
“Ah mama ga terlalu suka film begituan. Ajak temanmu aja lah,”
“Ah, mereka palingan udah nonton pas liburan ini.”
“Kata siapa? Siapa tau ada yang belom,”
“Udah lho ma, ayolah ma.. Ntar mama pasti ketawa-ketawa deh,”
“Ah, malu ah mama nonton begituan. Itu kan film untuk remaja,”
“Yaa kan anggap aja mama masih remaja J
“Huu kamu ini, makanya cepet cari pacar biar ga ganggu mama terus,”
“Ah, kenapa harus ngomongin itu~ yaudah lah yaa sekarang mama mau nemenin ga nih?”
“Iya deh,”

Yuhuu~ setelah perjuangan gua ngebujuk mama akhirnya mama mau juga nemenin nonton CB jugaa. Yaa, walaupun nontonnya Cuma di Slipi Jaya aja, tapi lumayanlah termasuk murah (secara gua yang harus bayarin mama). Gua sama mama pun ngambil film yang jam 12 karena sore harus ngebantuin eyang masak di rumah. Begitu gua ngantri beli tiket, gua sadar kalau orang-orang yang ngantri depan gua ini (Cuma 2 orang sih) pada mau nonton iron man 3. Gua udah punya feeling sesuatu ini. Gua sampai juga depan mbak kasirnya. Gua pun bilang gua mau nonton CB jam 12 untuk 2 orang dan mbak nya pun membuka denah tempat duduk. And you know, itu teater masih kosong! Dengan sedikit malu, gua pun mesen yang di tengah. Sumpah gua ga kebayang kalau teater itu isinya cuma gua dan mama doang. Mama pun ketawa tanpa henti begitu gua kasih tau kalau teater itu kosong.

Pintu teater 4 telah terbuka~
Mama pun langsung ngajak gua masuk ke teater. Walaupun gua sempet bilang nanti aja mendekati mulai, tapi mama tetep aja pengen masuk saat itu. Yaudah bermodal nekat, akhirnya gua masuk juga dan duduk di teater yang masih kosong.

5 Menit.. Belom ada yang datang…

10 Menit.. Akhirnya ada 2 orang yang datang J

15 menit.. Datang lagi 2 orang~

Lampu pun dimatikan dan film dimulai. Cerita itu pun dimulai dengan cerita gimana putusnya Raditya Dika dengan berbagai ceweknya. Yaa, entah kenapa gua ngerasa ngejleb banget nonton itu. Apalagi waktu ibu dan bapaknya Radit nyindir2 Radit yang ga putus nyambung terus dan pas ada kerabat jauhnya Radit yang jomblo sampai umur 70 tahun. Waktu si Radit ngebayangin kerabat jauh itu sabagai dirinya kelak, gua juga sempat ngebayangin begitu juga. Amit amit deh..

Cinta itu bisa kadaluarsa.
Gua mikirin makna kalimat itu begitu si Radit nyebut gitu. Gua pikir-pikir mungkin emang bener apalagi gua orangnya bosenan. Selama ini, kalau gua ga berhasil sama satu cowok dan ada cowok baru yang menarik perhatian gua, pasti cinta lama itu bakal kadaluarsa dan berganti dengan cinta yang baru.

Gua cuma butuh cewek yang beda.
Sip, bener banget Radit~ gua juga butuh cowok yang beda. Yang bisa bikin gua ga bosen dan ga kadaluarsa sampai ajal memisahkan. Tapi dimana coba menemukan orang yang begitu. Asyik banget begitu nonton ending CB yang akhirnya Radit dapat cinta yang dicarinya.

Mas Radit, kira-kira kapan awan mendung gua bakal hilang?



Lampu pun hidup kembali. Gua pun berdiri dan melihat sekeliling. Setelah dijumlah, tadi teater ini hanya diisi oleh 10 orang penonton. Hahaha, berasa bioskop milik sendiri yaa~ ^^
Begitu gua pulang, gua ngeliat sepupu gua lagi ngutak-ngatik laptopnya. Gua pun nyamperin dia dan nyeritain tentang pengalaman gua di bioskop tadi dan cerita CB. Gua bahkan nyeritain kenapa harus Brontosaurus yang katanya kuat. Eh begitu gua selesai cerita dan sekalian curhat, jadilah gambar ini. Entah gua harus ngakak atau sedih..

 
Bayangkan Tyrannosaurus itu karnivora dan kata karnivora mengingatkan gua pada satu cowok yang gua suka sekarang yang bakal bertepuk sebelah tangan (lagi). Kenapa? Karena dia selalu ngatain gua karnivora yang ga suka sayur sama sekali. Sekali ini, gua bingung harus ngakak atau sedih ngeliat gambar ini.

~ppyong :p

Selasa, 30 April 2013

Hanya Pengganggu~

Pengganggu lagi..

Lagi-lagi gua ngerasa gua hanya menjadi pengganggu.
Gua sensitif banget kalau orang udah ngediemin gua atau nanggapin gua hanya singkat-singkat.
Okeh, daripada tuh orang tambah frustrasi karena adanya gua, mending gua cau ajaa..

Gua pernah nanya ke satu orang yang gua rasa gua jadi pengganggunya. Dia bilang dan bahkan ngeyakinin gua kalau gua ga ganggu. Bagaimana bisa dia bilang gua ga ganggu kalau sms gua dibalas singkat-singkat dan bahkan ga dibalas.

Sekarang gua ngerasain hal yang sama, disini.. 
Gua udah didiemin yang secara ga langsung nyuruh gua untuk pergi.
Okeh, gua udah pergi dan sekarang gua lg nyelam di dunia maya untuk penghiburan diri.

Jujur dari dulu emang ada perasaan yang mengganjal disini. 
Semua seakan baik pada waktu dan melupakan gua pada waktunya.
Yaa, namanya juga manusia..

Gua udah sering ingin pergi dari sini. Hanya saja terkadang ada hal-hal tertentu yang bikin gua menunda kepergian gua. 
Gua pernah curhat tentang hal ini ke seseorang dan bilang gua terlalu sensitive dan gua disuruh belajar khusnudzon.
Okeh, gua akan belajar khusnudzon~ tapi keadaan seakan mengatakan kalau gua memang hanya seorang pengganggu.

Yaa, intinyaa gua bakal tetap datang disaat baik dan gua akan pergi ketika gua hanya menjadi pengganggu…

~ppyong

Sabtu, 20 April 2013

@ Korean Culture Day, 20 April 2013




                Hari ini gua terbangun begitu cepat. Jam masih menunjukkan pukul 6 pagi. Mungkin gua begitu bersemangat untuk datang ke Korean Culture Day (KCD) hari ini. Berhubung gua ga ada kerjaan pagi-pagi gini, gua ambillah hp gua. Gua bbm Fania, teman yang ada di UI, tapi ternyata dia ada acara lain dari pagi. Gua cukup kecewa baca bbm itu. Gua pun mencoba sms kakak sepupu gua yang juga kuliah di UI. Dia bilang dia bisa sebelum jam 11 karena abis itu dia ada acara. Kenapa anak UI pada sibuk semua sih –“

               SKIP~

                Jam sudah menunjukkan pukul 09.30 ketika kita berangkat, ngaret 30 menit dari jam janjiannya. Rencananya kita akan naik kereta di stasiun kalibata, jadi kita naik angkot yang menuju kesana dahulu. Di angkot, gua sempat nanya ke Waris dimana kita turun dan dia bilang kata Cessy turun di depan stasiunnya. Walaupun gua sempet bingung, gua tetap ngikut aja. Rel kereta api sudah cukup jauh terlewati, gua semakin bingung. Akbar bilang bapak yang ada di angkot itu juga mau ke stasiun, yaudah kita sedikit tenang. Angkot terus berjalan. Akhirnya bapak itu turun tapi bukan di stasiun. Kita cukup panik saat itu. Kita coba tanya sama supir angkot nya dan bapaknya bilang stasiun kalibata udah jauh banget kelewatan. Untung saja ada bapak-bapak yang ngasih tau kalau kita bisa turun di stasiun minggu dan naik kereta dari sana. Kita pun bisa bernapas lega~

Minggu, 24 Maret 2013

Senyuman


Malam itu aku hanya terdiam di kamarku.
Menatap sendu laptopku sambil memakai headset.
Sengaja aku membesarkan volume mp3 di laptopku.
Sesekali mataku beralih pada sebuah handphone yang tergeletak disamping laptopku.
Tanganku segera mengambilnya begitu ia bergetar.

Ddrrttt..
Dengan sigap aku mengambil handphone itu.
Membacanya perlahan dan membalasnya.
Mungkin ia menyadari keanehan itu dan mulai bertanya ada apa.
Aku hanya menjawab bahwa aku hanya ingin keluar.
Ia menurutiku dan segera menjemputku.

Aku melihatnya.
Ia melihatku dan melambaikan tangannya.
Aku hanya tersenyum dan menghampirinya.

Sepi.
Itulah suasana saat itu.
Yang terdengar hanyalah suara hujan rintik-rintik yang membasahi jalan.
Aku sedang tak ingin bicara dan sepertinya ia mengerti itu.
Setelah beberapa lama, ia pun mulai berbicara.
“Teriaklah.. Teriakkan semua uneg-unegmu,”
Aku pun hanya memelototinnya seakan berkata “apa kau gila?”

Diam.
Suasana kembali hening.
Hingga kami tiba di tempat yang dituju, warteg nasi goreng.
Seperti biasa, kami duduk bersebelahan.
Ia memesankan pesanan kami dan aku hanya menatap jalan.
“kau bisa cerita padaku kalau kau mau,” suara itu cukup membuatku menoleh padanya.
Aku pun mulai bercerita padanya walaupun hanya singkat.
Seakan mengerti ia pun berkata, “hanya itu? Ku yakin masih ada lagi yang ada dipikiranmu,”
Aku pun hanya menyembunyikan kepalaku diatas meja itu, “intinya begitulah,”
“Makanya jadi orang jangan kepo tingkat tinggi,” ucapan itu sukses membuatku mengangkat kepalaku dan menatapnya, “apa maksudmu?”
Ia tersenyum seakan mengejekku yang membuatku mendorongnya, “dasar nyebelin,”
Sambil berusaha menyeimbangkan posisi duduknya yang rawan jatuh akibat doronganku, ia tersenyum padaku.
Bukan senyuman ejakan seperti sebelumnya.
”Biarin nyebelin, seenggaknya kau bisa tertawa lagi,”
Kalimat itu… sukses membuatku membeku sesaat.
Tak bisa ku pungkiri, senyumku kembali mengembang saat itu..

Benar, senyuman bisa mengobati segalanya J
Terima Kasih telah mengingatkanku J

Dear Blog


Dear my blog,
Apakah aku selalu mengganggumu dengan cerita-ceritaku?
Apakah kau merasa kehadiranku membuatmu susah?
Apakah aku salah selalu mengunjungimu untuk mencurahkan segalanyaa?

APA BLOG!! JAWAB!!

Kenapa kau tidak menjawabnya?
Kenapa kau tidak mengatakannya didepanku?
Kenapa kau harus mengatakannya dibelakangku?
Haruskah kau bercandaria saat aku tak ada? Sebegitu mengganggunyakah diriku padamu? Sebegitu ga pentingnyakah arti kehadiranku bagimu?

Kau segalanya bagiku..
Kau tempatku mencurahkan apapun pertama kalinyaa..

Tapi apa?! Aku hanya mengganggumu! Aku hanya sekedar angin yang segera kau tunggu keberhentiannya..

Baiklah kalau itu memang maumu, aku akan menurutinya..
Sebisa mungkin, aku tidak akan mengunjungimu..
Sesedikit mungkin, aku bercerita padamu..
PADAMU, blog (nama samaran)

Sabtu, 16 Maret 2013

Love Rain


LOVE RAIN



Bagi pecinta drama korea pasti sudah tau dong tentang drama Love Rain?
Drama yang mengisahkan kisah cinta tahun 1970-an yang terus berlanjut hingga masing-masing telah memiliki anak yang ternyata juga saling mencintai. Kisah yang romantis di tengah hujan membuat siapapun yang mengalaminya berharap hujan tidak akan pernah berhenti.

Aku mempunyai sebuah kisah. Mungkin tidak seromantis kisah tengah hujan yang ada di Love Rain, namun kurang lebihnya mirip yang ada di drama itu.

Kamis, 14 Maret 2013

Honesty~


Honesty
Jujurlah, cinta butuh itu!

Itu adalah judul novel yang telah ku baca. Setelah membaca novel itu, terbayang sesuatu dipikiranku.

JUJUR !
Menurutmu, mengapa cinta butuh kejujuran?

CINTA? Okeh, itu untuk yang sudah cukup dewasa. Untuk kita mungkin baru sebatas SUKA.
Kembali ke pertanyaan, mengapa suka butuh kejujuran? Apakah kau harus jujur dan mengatakan suka setiap kali kau merasakannya?

Aku pernah melakukannya..
Dan sampai saat ini belum ada yang menghasilkan suatu akhir yang bahagia..

Rabu, 13 Maret 2013

Harapan?


Harapan?
Menurut kalian apa itu harapan?
Terus kenapa harus ada istilah ‘Pemberi Harapan Palsu’?
Jadi sebenarnya harapan itu apa?

Menurut beberapa sumber yang gua dapat, gua simpulkan klo Harapan dalam konteks ‘cinta’ itu saat seseorang memperlakukan seseorang lain seolah-olah ia siap menangkapnya begitu ia jatuh. Kenapa sampai ada istilah ‘palsu’ dalam PHP? Mungkin itu saat seseorang itu ternyata tidak siap menangkap seseorang lain begitu orang lain itu jatuh. Ia seakan merentangkan tangannya untuk menangkap seseorang itu. Namun rentangan tangannya itu hanyalah sebuah rentangan tangan biasa yang bahkan tidak dimaksudkan untuk menangkap apapun.

Alami? Ya, hal itu alami bagi seorang cowok.

Senin, 11 Maret 2013

59 Menit


59 Menit..

Rekor kali ini berhasil aku pecahkan. Ini adalah panggilan masuk terlama yang pernah aku sadari. Ini pun karena setiap sejam operator akan mematikan panggilan. Kalau saja operator tidak melakukannya, mungkin panggilan itu akan bertahan lebih lama.

Bertahan lebih lama?
Aku harap aku bisa bertahan lebih lama atas apa yang kau katakan disana. Dengan suara getir aku mencoba menanggapi setiap perkataannmu. Memang sulit melakukannya terlebih aku tidak boleh menunjukkan betapa sedih dan hancurnya aku. Berusaha memelankan suaraku pun menjadi salah satu cara menutupinya.

Kalian tahu apa yang dikatakannya?
He said that we're too contrast. Apakah kalian pikir itu logis? Mungkin menurutmu itu logis. Tapi tidak denganku. Aku merasa itu kurang kuat. Bayangkan, hanya karena aku suka jalan-jalan dan bepergian sedangkan kau lebih senang duduk manis dirumah kau berkata kita terlalu berbeda.

Sabtu, 09 Maret 2013

51 Menit 47 detik


51 menit 47 detik ~
Durasi yang cukup lama untuk hanya sekedar berkata suka.

Lelaki itu dengan seenaknya menelponku begitu aku berpesan bahwa SMS itu tidak seru karena tidak ada ekspresinya. Tidak kah ia tau betapa jantungku berdebar begitu melihat panggilan darinya. Berusaha mengurangi sedikit grogi, aku pun menerima panggilan itu. Tak tanggung-tanggung, aku segera memprotes panggilan telpon itu padanya. Ia pun hanya menjawab dengan menyebutkan pesanku mengenai SMS yang tidak seru itu.

Aku nunggu lho~

Kalimat itu sukses membuat jantungku berdetak berkali-kali lipat dibanding biasanya. Aku pun hanya bisa tertawa menutupi rasa grogiku. Ia pun bertanya mengapa aku tertawa. Dengan jujur akupun mengaku bahwa aku grogi. Kini tawa terdengar dari seberang telpon. Ia menertawakanku.

Jadi siapa?

Kamis, 31 Januari 2013

Cerita Galau (lagi)


                Drrttt~ Drrttt~
                “Fa, HP-mu bergetar tuh,” suara Waris tiba-tiba mengagetkanku yang tengah asyik bercerita dengan Anisa. Aku pun tersenyum dan mengambil HPku untuk membaca pesan yang kuterima itu. Senyumku semakin mengembang begitu membaca pesan itu.
                “Ehem, SMS dari siapa sih sampai lupa melanjutkan cerita yang seru-serunya?” Anisa yang merasa aku abaikan menepuk pundakku. Rizki dan Nasha yang tengah makan pun mulai memperhatikanku.
                “Ahh, tidak kok. Ayo lanjut lagi ceritanya…” Belum sempat aku melanjutkan ceritaku, HPku mulai bergetar lagi. Kali ini Waris tidak tinggal diam, ia segera mengambil HPku dan membaca pesan itu.
                “Ntar gua jemput. Lo tunggu aja di kosan lo~ cieee, jadi sekarang sama kakak itu nih?” Waris membacakan pesan itu kuat-kuat sambil menggodaku. Aku yang kaget mendengar isi pesan itu langsung melambaikan kedua tanganku.
                “Enggak kok. Besok itu kita cuma mau ngerjain poster aja. Karena aku gatau tempatnya dimana, jadi dia yang mau jemput, daripada aku nyasar lagi,” aku berusaha membela diri. Tak aku pungkiri bahwa aku memang senang dijemputnya, namun aku tak ingin berharap yang lebih. Aku tak mau kecewa lagi.


Flashback
                “Fa, sebenernya ada yang mau aku certain ke kamu,” Kak Itin datang menghampiriku. Aku yang tengah asyik bermain dengan laptopku pun segera menghentikan aktiviitasku. Melihatku yang telah siap mendengarkan, Kak Itin segera menunjukkan laptopnya. Dengan sedikit bingung aku pun menerima laptop itu dan melihat apa yang terlihat di layar laptop itu. Ternyata itu adalah kronologi percakapan Kak Itin dan Kak Akhmad.