Rabu, 22 Mei 2013

VENICE - la mia avventura, il mio amore~

Annyeong~
aku punya cerita yang dari dulu masih aku sukaa...
Ini cerita eonni ku sih *ijin ngeshare yaa eonni*..
Eonni ku ini emang pembuat cerpen korea yang daebak !!

So, enjoy it ^^

VENICE - la mia avventura, il mio amore~


'sial! dimana ia sebenarnya? ia ingin membunuhku secara tak langsung, huh?' umpatku berulang kali. kubuka tutup flip ponselku yang nyatanya tak dapat digunakan di area luar Korea. kutatap dalam-dalam sebuah tulisan besar yang berada tepat di hadapanku. VENICE MARCO POLO INTERNATIONAL AIRPORT. mimpiku selama bertahun-tahun untuk menjejakkan kaki di tempat ini, kini telah terwujud dengan berbagai pengorbanan yang kulakukan. namun bagaimana bila mimpimu selama ini berubah menjadi mimpi buruk yang tak pernah kau bayangkan seperti sekarang? Ya, aku terobsesi untuk bertemu dengan Nikki Lee. Teman chattingku melalui dunia maya. Hahahaha, cukup tak masuk akal memang. bagaimana bisa aku jatuh hati pada seseorang yang belum pernah kutemui langsung? Bahkan fotonya  pun hanya terlihat samar saja. Tetapi ntahlah, aku merasa jika kami sangatlah akrab bahkan melebihi keakrabanku pada beberapa teman dekat. dan aku pun tak tahu, bagaimana caranya aku dapat mengenal ia sedekat ini. Dan sepertinya ia telah menipuku, ia hanya bermain-main saja untuk menawariku berlibur bersamanya di Venice. Dan dengan bodohnya, aku langsung saja menerima tawaran Nikki dan di dalam pikiranku hanya ingin bertemu dengannya. 'rasakan akibat kebodohanmu, Sunhee-ya!' rutukku terus menerus.

Nikki Lee, sosok yang aku banggakan pada seluruh sahabatku. ia adalah satu-satunya teman dekatku di dunia maya yang berasal dari luar negeri. Italia lebih tepatnya. siapapun akan bangga sepertiku! dengan bekal kemampuan berbahasa inggris yang minim, aku dapat berkomunikasi secara lancar dengannya. meskipun aku sadar, mungkin cukuplah sulit ia memahami gramarku yang sungguh di bawah rata-rata. kalian pasti bertanya-tanya, bagaimana aku yakin jika Nikki benar-benar berasa dari Italia? karena kerap kali ia memamerkan foto bayangan dirinya di tepi Grand Canal, sungai utama yang membelah kota Venice. salah satu tempat impian yang sangat ingin kukunjungi.

'bagaimana ini? aku sama sekali tak memiliki saudara ataupun teman di sini selain Nikki yang sama sekali tak ku ketahui asal-usulnya! apakah aku harus kembali ke Korea pada penerbangan selanjutnya, dan menghapus seluruh kesempatanku untuk menjelajah tempat impianku dan menyia-nyiakan usaha eomma mengumpulkan uangnya untuk biaya kemari?' aku membenamkan kepalaku diantara kedua lututku, dan berusaha untuk berfikir dengan jernih untuk mengambil keputusan yang cukup berat bagiku. kubulatkan tekadku untuk menjelajah kota Venice seorang diri, tanpa mengharap Nikki untuk menemaniku. 'Nikki-ya, kau brengsek!'


Selasa, 21 Mei 2013

Pertemuan itu


Saat itu aku berjalan perlahan sambil membayangkan apa yang akan terjadi. Bayangan itu sudah ada sejak awal namun tak bisa ku bayangkan bagaimana reaksiku mendengar hal itu. Kulihat lelaki itu telah duduk disana, ditangga depan Auditorium. Sambil menghela nafas, aku datang menghampirinya dan duduk disebelahnya.

Suasana saat itu hanyalah hening. Dan ia memecah keheningan itu.

“Kau masih menyukaiku?” Spontan aku segera memandangnya.

“Bukankah aku pernah mengatakannya?” Aku kembali memalingkan wajahku.

“Iyaa, kau pernah mengatakannya duluuu dan hanya sekali. Ibarat makanan itu sudah kadaluarsa.” Ia diam 
sejenak, “Ayo, jawabanmu menentukan segalanya,”

“Iyaa masih,” dengan singkat aku menjawabnya. Namun ia tidak puas hanya dengan mendengar jawabanku itu.

“Masih aja atau masih banget?” Sungguh rasanya ingin ku bunuh lelaki ini.

“Masih banget,” dengan berat aku menjawabnya.

Ia kini mengeluarkan laptop dan mengetik sesuatu yang kemudian ditunjukkannya padaku.

‘Bisa lupakan aku?’ Deg, dugaanku benar.

“Tergantung kakak” Ia kembali mengetik sesuatu di laptopnya.

‘Maaf kalau selama ini aku jutek denganmu. Aku sudah berusaha mencoba tapi tidak berhasil. Aku janji tidak akan jutek lagi denganmu asalkan kamu bisa janji 1 hal. Lupakan aku,’ Aku tidak dapat membayangkan ekspresiku saat itu. Dan ia pun kembali mengetik sesuatu.

‘Kamu boleh benci denganku, kamu boleh memakiku, kamu boleh cerita dengan teman-temanmu kalau aku jahat. Tapi jangan menyangkutkan masalah ini dengan Saburai. Jangan hanya karena ini kalian tidak ingin datang rapat dan berhubungan dengan Saburai. Ini masalah kita bukan masalah Saburai.’

“hahaha, lebay banget deh. Ya tidak lah, aku bisa membedakan masalah kok,” sontak saja aku tertawa membaca hal itu. Ia pun kini menutup laptopnya dan mulai memandangku.

“Ada yang ingin kau tanyakan?” Pertanyaan itu membuatku berpikir. Aku telah membayangkan hal ini sebelumnya, tapi kenapa aku tak bisa mengeluarkan kata-kata ini sekarang.

“Sebenarnya kenapa kau jutek padaku?” Hanya itu yang terlintas dipikiranku saat ini.

“Untuk memutuskan harapanmu,” Ia diam sejenak, “Sebenarnya aku tak ingin jutek denganmu. Aku juga berat untuk mengatakan hal ini, tapi aku terus saja didesak teman-temanku untuk mengatakannya sesegera mungkin. Bahkan salah satu temanku mengatakan bahwa ia akan merebutmu dariku. Aku hanya berkata, ‘ambil saja, biarkan aku yang sakit dan dibenci daripada dia. Buatlah ia bahagia dan segera melupakanku,’”

Sungguh saat itu aku ingin sekali menangis. Bukan menangis sedih namun menangis terharu. Aku tak menyangka dibalik sifatnya yang konyol ada sisi seperti itu.

“Aku mengatakan ini baru sekarang karena aku juga memikirkanmu. Aku harap dengan aku jutek denganmu kamu dapat dengan mudah melupakanku. Kau boleh galau karena lelaki, tapi kau tidak boleh menangisinya. Lelaki itu tidak seberharga itu untuk ditangisi,”

“Lalu, bagaimana cara melupakan seseorang?” Aku ingin sekali mendengarkan pendapatnya akan hal ini.

“Kalau untukku, cari kesibukan sendiri dan bermain bersama teman-teman tanpa membicarakan orang yang digalaukan,”

“Sekarang gini, gimana aku bisa tidak membicarakanmu sedangkan setiap aku bertemu dengan teman-temanku mereka selalu bertanya tentang perkembanganku denganmu,”

“Ahh, iya juga yaa. Mungkin kau butuh cara lain,”

“Temanku pernah bilang untuk mencari yang baru. Namun kesanku saat mendapat yang baru adalah seperti pelampiasan karena tidak mendapat yang lama. Dan jujur, awal denganmu juga seperti pelampiasan menurutku,” Ia pun kaget mendengarku. Akhirnya aku pun jujur tentang hubunganku dengan seseorang sebelum dengannya. Obrolan kami pun berlanjut dengan acara curhat dan canda-canda seperti biasanya.


Okeh, itu cerita formalnya dan sekarang gua pengen ngomong dengan informal.

Gua heran, dari kejadian itu berlangsung hingga sekarang gua ga terlihat sedih dan bahkan gua ga nangis. Sekarang gua malah galau. Kejadian itu ibarat pacaran adalah sesi putusnya dan harusnya gua sedih. TAPI KENAPA TIDAK?

What’s wrong with me? Apa karena gua telah membayangkan hal ini yang bakal terjadi? Atau jangan-jangan gua itu sebenernya ga suka sama dia, dan ini hanya pikiranku saja yang mengatakan ini suka?

Bahkan teman gua ga percaya tentang kejadian ini karena gua cerita tanpa ada ekspresi sedih. Jadi ini apaan? Waktu dia bilang untuk ngelupain dia, gua emang sempat kaget namun gua ga ngerasa itu jleb. Dia bahkan menyangka bahwa pertemuan itu akan tejadi pertumpahan air mata dan pertumpahan perasaan, dan hal itu tidak terjadi. Pertemuan itu hanya awalnya saja yang serius setelahnya kami tetap bisa tertawa-tawa.

JADI INI SEBENARNYA ADA APA?

~ppyong

Minggu, 12 Mei 2013

Cinta Tyrannosaurus



“Ma, nonton Cinta Brontosaurus yok~”
“Filmnya Raditya Dika itu?”
“Iyaa, nonton yok…”
“Ah mama ga terlalu suka film begituan. Ajak temanmu aja lah,”
“Ah, mereka palingan udah nonton pas liburan ini.”
“Kata siapa? Siapa tau ada yang belom,”
“Udah lho ma, ayolah ma.. Ntar mama pasti ketawa-ketawa deh,”
“Ah, malu ah mama nonton begituan. Itu kan film untuk remaja,”
“Yaa kan anggap aja mama masih remaja J
“Huu kamu ini, makanya cepet cari pacar biar ga ganggu mama terus,”
“Ah, kenapa harus ngomongin itu~ yaudah lah yaa sekarang mama mau nemenin ga nih?”
“Iya deh,”

Yuhuu~ setelah perjuangan gua ngebujuk mama akhirnya mama mau juga nemenin nonton CB jugaa. Yaa, walaupun nontonnya Cuma di Slipi Jaya aja, tapi lumayanlah termasuk murah (secara gua yang harus bayarin mama). Gua sama mama pun ngambil film yang jam 12 karena sore harus ngebantuin eyang masak di rumah. Begitu gua ngantri beli tiket, gua sadar kalau orang-orang yang ngantri depan gua ini (Cuma 2 orang sih) pada mau nonton iron man 3. Gua udah punya feeling sesuatu ini. Gua sampai juga depan mbak kasirnya. Gua pun bilang gua mau nonton CB jam 12 untuk 2 orang dan mbak nya pun membuka denah tempat duduk. And you know, itu teater masih kosong! Dengan sedikit malu, gua pun mesen yang di tengah. Sumpah gua ga kebayang kalau teater itu isinya cuma gua dan mama doang. Mama pun ketawa tanpa henti begitu gua kasih tau kalau teater itu kosong.

Pintu teater 4 telah terbuka~
Mama pun langsung ngajak gua masuk ke teater. Walaupun gua sempet bilang nanti aja mendekati mulai, tapi mama tetep aja pengen masuk saat itu. Yaudah bermodal nekat, akhirnya gua masuk juga dan duduk di teater yang masih kosong.

5 Menit.. Belom ada yang datang…

10 Menit.. Akhirnya ada 2 orang yang datang J

15 menit.. Datang lagi 2 orang~

Lampu pun dimatikan dan film dimulai. Cerita itu pun dimulai dengan cerita gimana putusnya Raditya Dika dengan berbagai ceweknya. Yaa, entah kenapa gua ngerasa ngejleb banget nonton itu. Apalagi waktu ibu dan bapaknya Radit nyindir2 Radit yang ga putus nyambung terus dan pas ada kerabat jauhnya Radit yang jomblo sampai umur 70 tahun. Waktu si Radit ngebayangin kerabat jauh itu sabagai dirinya kelak, gua juga sempat ngebayangin begitu juga. Amit amit deh..

Cinta itu bisa kadaluarsa.
Gua mikirin makna kalimat itu begitu si Radit nyebut gitu. Gua pikir-pikir mungkin emang bener apalagi gua orangnya bosenan. Selama ini, kalau gua ga berhasil sama satu cowok dan ada cowok baru yang menarik perhatian gua, pasti cinta lama itu bakal kadaluarsa dan berganti dengan cinta yang baru.

Gua cuma butuh cewek yang beda.
Sip, bener banget Radit~ gua juga butuh cowok yang beda. Yang bisa bikin gua ga bosen dan ga kadaluarsa sampai ajal memisahkan. Tapi dimana coba menemukan orang yang begitu. Asyik banget begitu nonton ending CB yang akhirnya Radit dapat cinta yang dicarinya.

Mas Radit, kira-kira kapan awan mendung gua bakal hilang?



Lampu pun hidup kembali. Gua pun berdiri dan melihat sekeliling. Setelah dijumlah, tadi teater ini hanya diisi oleh 10 orang penonton. Hahaha, berasa bioskop milik sendiri yaa~ ^^
Begitu gua pulang, gua ngeliat sepupu gua lagi ngutak-ngatik laptopnya. Gua pun nyamperin dia dan nyeritain tentang pengalaman gua di bioskop tadi dan cerita CB. Gua bahkan nyeritain kenapa harus Brontosaurus yang katanya kuat. Eh begitu gua selesai cerita dan sekalian curhat, jadilah gambar ini. Entah gua harus ngakak atau sedih..

 
Bayangkan Tyrannosaurus itu karnivora dan kata karnivora mengingatkan gua pada satu cowok yang gua suka sekarang yang bakal bertepuk sebelah tangan (lagi). Kenapa? Karena dia selalu ngatain gua karnivora yang ga suka sayur sama sekali. Sekali ini, gua bingung harus ngakak atau sedih ngeliat gambar ini.

~ppyong :p