Senin, 26 Maret 2012

Beautiful Sunset

Check it out kawan,
maaf kalo rada aneh..
Buat yang komplain ini bahasa apa, ini bahasa italia (walaupun pake google translate) dan tenang aja karena ada sub nya kok :D

so, what are u waiting for?
check it out ..


BEAUTIFUL SUNSET 


          "Grazie, goderti la tua vita (Terima kasih, selamat menikmati harimu)," suara ceria gadis itu memang selalu bisa membuat para pelanggan bersemangat. Cafee ini memang terkenal akan keramahan para pegawainya, terutama gadis belia itu.
          "Vivia .." Seorang lelaki tampan dengan rambut hitam sedikit panjang berlari dan memeluk Vivia, gadis belia itu.
           "Seth fratello, cio che e sbagliato? (Kak Seth, ada apa denganmu?)" Wajah Vivia yang kini memerah membuat ucapannya sedikit terbata-bata. Harus Vivia akui, Seth adalah lelaki yang ia sayangi dan ia menyukai apa yang dilakukan Seth sekarang. Tapi .. Ini sangat berbeda dengan Seth yang biasa.

Flashback
           "Fratello, venite. (Kakak, kau datang)," Vivia segera berlari saat mengetahui Seth membuka pintu cafee. Ia segera menggandeng tangan Seth dan menuntunnya ke sebuah meja.
           "Sono felice che tu sei qui. Vuoi I'll cappuccino caldo? (Aku senang kau disini. Kau ingin capuccino hangat?)" Vivia tersenyum begitu manis yang hanya dibales sebuah anggukan oleh Seth.
Lagi-lagi Vivia tetap tersenyum. Ia sudah terbiasa menghadapi sikap cueknya Seth.
          "Un capuccino sta arrivando (Satu capuccino datang)," Vivia datang menghampiri Seth dengan irama cerianya. Seth hanya tersenyum sekilas dan langsung menyeruput capuccinonya.
           "Waw, siete stati sorrise. I'll tuo sorriso e molto bella. Andiamo, sorridere di nuovo. (Waw, kau tadi tersenyum. Senyummu itu begitu indah. Ayo, tersenyum lagi)," Vivia memainkan tangan Seth manja. Ia bahkan menarik kedua ujung bibir Seth agar tersenyum. Tapi Seth masih tetap terlihat cuek dan dingin.
Flashback end

           "Vivia?" Seth melambaikan tangannya didepan wajah Vivia. Seketika itu pula Vivia menggelengkan kepalanya.
           "Si, Seth fratello, cio che e sbagliato? (Iya Seth, ada apa?)" Kini Vivia hanya bisa tersenyum padanya. Senyumnya yang biasa ia berikan pada Seth. Seth membalas tersenyum. Pandangan mereka saling bertemu. Terlihat pandangan yang berbeda di mata Seth.
           "Andiamo (Ayo)," Seth menarik Vivia keluar dari cafee. Seth terus menarik Vivia tanpa menghiraukan pertanyaan-pertanyaan Vivia.
           "Hai detto che vuoi andare in gondola con me. Allora, andiamo (Kau pernah berkata bahwa kau ingin naik gondola bersamaku kan? Ayo kita naik)," Seth mengulurkan tangannya begitu ia sudah berada diatas gondola.
            "Non lo so, Seth fratello, Ho una brutta sensazione, (Entahlah Seth, perasaanku tidak enak)," Vivia masih berdiri menatap Seth. Sudah sejak tadi, perasaan Vivia sangat tidak enak.
            "Calmati, io sono qui (Tenang, ada aku disini)," kali ini Vivia tersenyum dan menerima uluran tangan Seth. Kini mereka duduk disebuah gondola menikmati keindahan langit sore kota Venice diiringi suara indah para gondolier.

         Matahari hampir terbenam, air-air yang mereka lalui kini terlihat kemerahan. Seth menggenggam tangan Vivia membuat Vivia menatap heran Seth. Seth tersenyum begitu tulus dan indah. Perlahan, ia mendekati Vivia dan mencium keningnya begitu lembut. Ia pun memeluk Vivia begitu erat seakan tak ingin kehilangannya. Walaupun bingung, Vivia hanya bisa tersenyum. Sebentar lagi matahari akan terbenam. Ini akan menjadi sunset paling indah bagi Vivia.
            "Vivia, mi dispiace, ti amo (Vivia, maafkan aku, aku mencintaimu)," Seth berbisik perlahan. Semakin terbenamnya matahari, tubuh Seth semakin menghilang. Akhirnya Seth pun menghilang dari pelukannya. Saat itu juga, air mata Vivia mengalir membasahi pipinya. Tangannya memegang sebuah kalung yang mungkin tadi diberikan Seth, sebuah kalung berleontin VS.
           "Questo tramonto e I'll piu bel tramonto, (Sunset kali ini benar-benar indah)," lirih Vivia sambil tersenyum.



Epilog :
Vivia kembali ke cafeenya. Begitu melihat Vivia, seorang wanita yang merupakan kakak Seth langsung berlari menghampirinya.
"Vivia, Seth e morto dopo una virgola oggi (Seth meninggal setelah seharian ini koma)," wanita itu menyampaikan berita duka itu sambil terisak. Vivia hanya tersenyum berusaha menenangkannya.
"Ma, sorrise alla fine della sua virgola (Tapi diakhir komanya ia sempat tersenyum)," Vivia menambahkan dan membuat sang kakak menatap Vivia heran.
"Solo una sensazione (Hanya feeling)," Vivia tersenyum sambil menggenggam kalung VS-nya.


~ ppyong

0 komentar:

Posting Komentar