Saat itu aku berjalan perlahan sambil membayangkan apa yang
akan terjadi. Bayangan itu sudah ada sejak awal namun tak bisa ku bayangkan
bagaimana reaksiku mendengar hal itu. Kulihat lelaki itu telah duduk disana,
ditangga depan Auditorium. Sambil menghela nafas, aku datang menghampirinya dan
duduk disebelahnya.
Suasana saat itu hanyalah hening. Dan ia memecah keheningan
itu.
“Kau masih menyukaiku?” Spontan aku segera memandangnya.
“Bukankah aku pernah mengatakannya?” Aku kembali memalingkan
wajahku.
“Iyaa, kau pernah mengatakannya duluuu dan hanya sekali. Ibarat
makanan itu sudah kadaluarsa.” Ia diam
sejenak, “Ayo, jawabanmu menentukan
segalanya,”
“Iyaa masih,” dengan singkat aku menjawabnya. Namun ia tidak
puas hanya dengan mendengar jawabanku itu.
“Masih aja atau masih banget?” Sungguh rasanya ingin ku
bunuh lelaki ini.
“Masih banget,” dengan berat aku menjawabnya.
Ia kini mengeluarkan laptop dan mengetik sesuatu yang
kemudian ditunjukkannya padaku.
‘Bisa lupakan aku?’ Deg, dugaanku benar.
“Tergantung kakak” Ia kembali mengetik sesuatu di laptopnya.
‘Maaf kalau selama ini aku jutek denganmu. Aku sudah berusaha
mencoba tapi tidak berhasil. Aku janji tidak akan jutek lagi denganmu asalkan
kamu bisa janji 1 hal. Lupakan aku,’ Aku tidak dapat membayangkan ekspresiku
saat itu. Dan ia pun kembali mengetik sesuatu.
‘Kamu boleh benci denganku, kamu boleh memakiku, kamu boleh
cerita dengan teman-temanmu kalau aku jahat. Tapi jangan menyangkutkan masalah
ini dengan Saburai. Jangan hanya karena ini kalian tidak ingin datang rapat dan
berhubungan dengan Saburai. Ini masalah kita bukan masalah Saburai.’
“hahaha, lebay banget deh. Ya tidak lah, aku bisa membedakan
masalah kok,” sontak saja aku tertawa membaca hal itu. Ia pun kini menutup
laptopnya dan mulai memandangku.
“Ada yang ingin kau tanyakan?” Pertanyaan itu membuatku
berpikir. Aku telah membayangkan hal ini sebelumnya, tapi kenapa aku tak bisa
mengeluarkan kata-kata ini sekarang.
“Sebenarnya kenapa kau jutek padaku?” Hanya itu yang
terlintas dipikiranku saat ini.
“Untuk memutuskan harapanmu,” Ia diam sejenak, “Sebenarnya
aku tak ingin jutek denganmu. Aku juga berat untuk mengatakan hal ini, tapi aku
terus saja didesak teman-temanku untuk mengatakannya sesegera mungkin. Bahkan
salah satu temanku mengatakan bahwa ia akan merebutmu dariku. Aku hanya
berkata, ‘ambil saja, biarkan aku yang sakit dan dibenci daripada dia. Buatlah
ia bahagia dan segera melupakanku,’”
Sungguh saat itu aku ingin sekali menangis. Bukan menangis
sedih namun menangis terharu. Aku tak menyangka dibalik sifatnya yang konyol
ada sisi seperti itu.
“Aku mengatakan ini baru sekarang karena aku juga
memikirkanmu. Aku harap dengan aku jutek denganmu kamu dapat dengan mudah
melupakanku. Kau boleh galau karena lelaki, tapi kau tidak boleh menangisinya.
Lelaki itu tidak seberharga itu untuk ditangisi,”
“Lalu, bagaimana cara melupakan seseorang?” Aku ingin sekali
mendengarkan pendapatnya akan hal ini.
“Kalau untukku, cari kesibukan sendiri dan bermain bersama
teman-teman tanpa membicarakan orang yang digalaukan,”
“Sekarang gini, gimana aku bisa tidak membicarakanmu
sedangkan setiap aku bertemu dengan teman-temanku mereka selalu bertanya
tentang perkembanganku denganmu,”
“Ahh, iya juga yaa. Mungkin kau butuh cara lain,”
“Temanku pernah bilang untuk
mencari yang baru. Namun kesanku saat mendapat yang baru adalah seperti
pelampiasan karena tidak mendapat yang lama. Dan jujur, awal denganmu juga
seperti pelampiasan menurutku,” Ia pun kaget mendengarku. Akhirnya aku pun
jujur tentang hubunganku dengan seseorang sebelum dengannya. Obrolan kami pun
berlanjut dengan acara curhat dan canda-canda seperti biasanya.
Okeh, itu cerita formalnya dan sekarang gua pengen ngomong
dengan informal.
Gua heran, dari kejadian itu berlangsung hingga sekarang gua
ga terlihat sedih dan bahkan gua ga nangis. Sekarang gua malah galau. Kejadian
itu ibarat pacaran adalah sesi putusnya dan harusnya gua sedih. TAPI KENAPA
TIDAK?
What’s wrong with me? Apa karena gua telah membayangkan hal
ini yang bakal terjadi? Atau jangan-jangan gua itu sebenernya ga suka sama dia,
dan ini hanya pikiranku saja yang mengatakan ini suka?
Bahkan teman gua ga percaya tentang kejadian ini karena gua
cerita tanpa ada ekspresi sedih. Jadi ini apaan? Waktu dia bilang untuk
ngelupain dia, gua emang sempat kaget namun gua ga ngerasa itu jleb. Dia bahkan
menyangka bahwa pertemuan itu akan tejadi pertumpahan air mata dan pertumpahan
perasaan, dan hal itu tidak terjadi. Pertemuan itu hanya awalnya saja yang
serius setelahnya kami tetap bisa tertawa-tawa.
JADI INI SEBENARNYA ADA APA?
~ppyong