Selasa, 21 Mei 2013

Pertemuan itu


Saat itu aku berjalan perlahan sambil membayangkan apa yang akan terjadi. Bayangan itu sudah ada sejak awal namun tak bisa ku bayangkan bagaimana reaksiku mendengar hal itu. Kulihat lelaki itu telah duduk disana, ditangga depan Auditorium. Sambil menghela nafas, aku datang menghampirinya dan duduk disebelahnya.

Suasana saat itu hanyalah hening. Dan ia memecah keheningan itu.

“Kau masih menyukaiku?” Spontan aku segera memandangnya.

“Bukankah aku pernah mengatakannya?” Aku kembali memalingkan wajahku.

“Iyaa, kau pernah mengatakannya duluuu dan hanya sekali. Ibarat makanan itu sudah kadaluarsa.” Ia diam 
sejenak, “Ayo, jawabanmu menentukan segalanya,”

“Iyaa masih,” dengan singkat aku menjawabnya. Namun ia tidak puas hanya dengan mendengar jawabanku itu.

“Masih aja atau masih banget?” Sungguh rasanya ingin ku bunuh lelaki ini.

“Masih banget,” dengan berat aku menjawabnya.

Ia kini mengeluarkan laptop dan mengetik sesuatu yang kemudian ditunjukkannya padaku.

‘Bisa lupakan aku?’ Deg, dugaanku benar.

“Tergantung kakak” Ia kembali mengetik sesuatu di laptopnya.

‘Maaf kalau selama ini aku jutek denganmu. Aku sudah berusaha mencoba tapi tidak berhasil. Aku janji tidak akan jutek lagi denganmu asalkan kamu bisa janji 1 hal. Lupakan aku,’ Aku tidak dapat membayangkan ekspresiku saat itu. Dan ia pun kembali mengetik sesuatu.

‘Kamu boleh benci denganku, kamu boleh memakiku, kamu boleh cerita dengan teman-temanmu kalau aku jahat. Tapi jangan menyangkutkan masalah ini dengan Saburai. Jangan hanya karena ini kalian tidak ingin datang rapat dan berhubungan dengan Saburai. Ini masalah kita bukan masalah Saburai.’

“hahaha, lebay banget deh. Ya tidak lah, aku bisa membedakan masalah kok,” sontak saja aku tertawa membaca hal itu. Ia pun kini menutup laptopnya dan mulai memandangku.

“Ada yang ingin kau tanyakan?” Pertanyaan itu membuatku berpikir. Aku telah membayangkan hal ini sebelumnya, tapi kenapa aku tak bisa mengeluarkan kata-kata ini sekarang.

“Sebenarnya kenapa kau jutek padaku?” Hanya itu yang terlintas dipikiranku saat ini.

“Untuk memutuskan harapanmu,” Ia diam sejenak, “Sebenarnya aku tak ingin jutek denganmu. Aku juga berat untuk mengatakan hal ini, tapi aku terus saja didesak teman-temanku untuk mengatakannya sesegera mungkin. Bahkan salah satu temanku mengatakan bahwa ia akan merebutmu dariku. Aku hanya berkata, ‘ambil saja, biarkan aku yang sakit dan dibenci daripada dia. Buatlah ia bahagia dan segera melupakanku,’”

Sungguh saat itu aku ingin sekali menangis. Bukan menangis sedih namun menangis terharu. Aku tak menyangka dibalik sifatnya yang konyol ada sisi seperti itu.

“Aku mengatakan ini baru sekarang karena aku juga memikirkanmu. Aku harap dengan aku jutek denganmu kamu dapat dengan mudah melupakanku. Kau boleh galau karena lelaki, tapi kau tidak boleh menangisinya. Lelaki itu tidak seberharga itu untuk ditangisi,”

“Lalu, bagaimana cara melupakan seseorang?” Aku ingin sekali mendengarkan pendapatnya akan hal ini.

“Kalau untukku, cari kesibukan sendiri dan bermain bersama teman-teman tanpa membicarakan orang yang digalaukan,”

“Sekarang gini, gimana aku bisa tidak membicarakanmu sedangkan setiap aku bertemu dengan teman-temanku mereka selalu bertanya tentang perkembanganku denganmu,”

“Ahh, iya juga yaa. Mungkin kau butuh cara lain,”

“Temanku pernah bilang untuk mencari yang baru. Namun kesanku saat mendapat yang baru adalah seperti pelampiasan karena tidak mendapat yang lama. Dan jujur, awal denganmu juga seperti pelampiasan menurutku,” Ia pun kaget mendengarku. Akhirnya aku pun jujur tentang hubunganku dengan seseorang sebelum dengannya. Obrolan kami pun berlanjut dengan acara curhat dan canda-canda seperti biasanya.


Okeh, itu cerita formalnya dan sekarang gua pengen ngomong dengan informal.

Gua heran, dari kejadian itu berlangsung hingga sekarang gua ga terlihat sedih dan bahkan gua ga nangis. Sekarang gua malah galau. Kejadian itu ibarat pacaran adalah sesi putusnya dan harusnya gua sedih. TAPI KENAPA TIDAK?

What’s wrong with me? Apa karena gua telah membayangkan hal ini yang bakal terjadi? Atau jangan-jangan gua itu sebenernya ga suka sama dia, dan ini hanya pikiranku saja yang mengatakan ini suka?

Bahkan teman gua ga percaya tentang kejadian ini karena gua cerita tanpa ada ekspresi sedih. Jadi ini apaan? Waktu dia bilang untuk ngelupain dia, gua emang sempat kaget namun gua ga ngerasa itu jleb. Dia bahkan menyangka bahwa pertemuan itu akan tejadi pertumpahan air mata dan pertumpahan perasaan, dan hal itu tidak terjadi. Pertemuan itu hanya awalnya saja yang serius setelahnya kami tetap bisa tertawa-tawa.

JADI INI SEBENARNYA ADA APA?

~ppyong