inspired by : Nicole - Lost.mp3
Your footprints and your scent,
I still feel it
close by.
From that time I
first met you,
I believe in
destiny.“Hei kamu,” seorang lelaki tiba-tiba menegurku. Aku tidak mengenal lelaki itu, sepertinya ia kakak tingkatku. Aku pun akhirnya hanya memandangnya.
“Oh
jadi kamu yang namanya Rial. Aku kira kamu cowok, maaf ya,” Lelaki yang bahkan
tak ku kenal itu tersenyum padaku. Senyum itu terasa menyegarkan saat
disandingkan dengan keeksotisan kulitnya. Suara itu terdengar begitu ramah dan
menyenangkan. Sebenarnya siapa ia?
“BTW,
ini benar nomor handphonemu kan?” kini lelaki itu menunjukkan handphonenya dan
disitulah ada nama dan nomor handphoneku. Lelaki ini semakin membuatku
penasaran. Bingung harus menjawab apa, aku pun hanya mengangguk dan tersenyum.
Entah kemana jiwa frontalku pergi saat itu.
“Al~”
Aku mendengar namaku dipanggil dan benar saja itu adalah suara kakak tingkatku
sekaligus kakak satu kosanku. Aku pun tersenyum pada lelaki itu dan segera
meninggalkannya. Sungguh saat itu aku tak ingin meninggalkannya.
“Cie
yang lagi mengobrol dengan Fian.” Aku terbengong begitu mendengar nama itu. Fian?
Apakah itu nama lelaki tadi? Aku semakin penasaran dan ingin mengenalnya lebih
jauh.
Confined inside this room on my own,
It is only time that passes.
Where ever I see and walk,
You’re right there beside me.
It is only time that passes.
Where ever I see and walk,
You’re right there beside me.
Aku
hanya bisa berjalan perlahan. Pikiranku sedang kacau saat ini. Aku rasa tingkat
kesensitifitanku sedang berada di level paling atas. Bagaimana bisa aku kesal
dengan teman-teman kosanku hanya karena hal sesepele ini. Sesekali aku pun
menendang batu-batu kecil. Aku jadi merasa tak enak dengan Fian. Aku yang
sedang ingin merelaksasikan pikiranku dan ia yang terpaksa menemaniku.
Perjalanan
menuju tempat makan terasa begitu jauh. Ku biarkan Fian berjalan di depanku. Ia
sama sekali tidak mengajakku berbicara. Sesekali ia hanya menengok ke belakang
memastikan aku masih di dekatnya.
“Jika
kau ingin meneriakkan segala pikiranmu, keluarkan saja disini. Disini cukup
sepi,” tiba-tiba saja ia mengatakan hal itu sambil menyejajarkan tubuhnya
disampingku. Sontak saja aku segera memandangnya dengan pandangan apa-kau-gila.
Melihat ekspresiku, ia hanya tertawa kecil takut aku akan tersinggung padanya.
“Hahaha,
dasar menyebalkan,” aku tak kuat melihatnya berlaku seperti itu.
“Lebih
baik dibilang menyebalkan asalkan kamu bisa tertawa lagi,” Langkahku mendadak
terhenti. Kakiku mendadak tidak dapat digerakkan. Ia sempat memandangku heran
dan aku hanya bisa terdiam tanpa kata. Fian memang paling bisa menenangkanku.
From the appearance back from that same season.
It is burned onto
my feelings.
Being scared of
losing these memories.
I was the idiot.
Awan hitam mulai
menutupi matahari. Angin mulai berhembus kencang. Fian pun mengusulkan untuk
pergi dari taman dan kembali ke kosan.
Sebenarnya saat itu aku masih ingin bersamanya, hanya saja cuaca tidak
mendukungku.
Baru
beberapa langkah berjalan, hujan mendadak turun dengan lebatnya. Fian segera
menarikku ke sebuah tempat untuk berteduh. Ia mulai mengutak-atik handphone nya
dan beberapa saat kemudian datang seorang temannya dari atas tempat kami
berteduh membawakan sebuah payung. Ia meminjamkan jaket yang sedang
dikenakannya padaku dan mulai membuka payung.
Ternyata
1 payung untuk berdua itu tidak berefek terlalu besar. Air hujan tetap dapat
membasahi kami. Setidaknya, aku terlindungi dengan adanya jaket Fian yang
sedang kukenakan. Aku dapat melihat tangannya yang basah akibat tidak
terlindungi payung.
Ternyata
alam tidak sepenuhnya bermusuhan denganku. Saat ini aku merasakan betapa
menyenangkannya hari hujan, tentu saja karena keberadaan dirimu, Fian.
You are still my love.
I was not
understanding for you. It was my fault.
Anything I do
reminds me of our world together,
I’m lost without
you.
Sore
itu aku benar-benar menyesal telah memutuskan untuk datang ke tempat makan itu.
Perutku yang sebelumnya selalu memanggil-manggil kini mendadak terhenti. Selera
makanku lenyap seketika.
Seorang
lelaki sedang mengobrol dengan seorang perempuan. Obrolan mereka terlihat
begitu nyaman dan mesra. Pandangan lelaki itu jelas terlihat bahwa ia menyukai
perempuan itu. Perempuan itu terlihat begitu lembut namun tetap easy going.
Pantas saja Fian menyukainya.
Sepertinya
Fian tidak menyadari kehadiranku. Baguslah, aku bisa dengan leluasa
meninggalkan tempat ini sesegera mungkin. Pemandangan itu, tatapan itu, tawa
itu, suasana itu masih terlintas dengan jelas dipikiranku. Tak terasa air
mataku kini telah berada di kedua pipiku. Aku tak menghiraukannya, aku hanya
ingin kembali ke kosan dan TIDUR.
One shot, two shot,
I remember those
eyes.
I was so sad,
please tell me why.
One shot, two shot,
Fates pulling the
lines
All of a sudden
“Flashback” I remember those eyes
“Kau
menyukaiku?” Pertanyaan itu terasa seperti sebilah pedang yang tiba-tiba
menusukku. Aku hanya bisa memandangnya dan mengangguk perlahan. Sorot mata itu,
aku tahu akan kemana pembicaraan ini.
“Lupakan
aku,” Pernyataan ini terasa lebih menusuk saat Fian yang mengatakannya, “Aku
telah lama mencoba untuk menyukaimu tapi aku tak berhasil. Aku senang kau
menyukaiku, tapi aku lebih mementingkan hatiku,”
Mungkin
mataku saat ini telah merah, namun aku tetap memaksakan untuk tersenyum.
“Jadi, perempuan itu memang pacarmu?” Dengan sedikit
terbata-bata aku mencoba menanyakan hal itu. Aku tidak berani melihatnya
terlalu lama, aku hanya bisa memalingkan wajahku dan mengalihkan perhatianku
pada beberapa anak kucing yang sedang asyik bermain.
“Iya,
benar,” Bila aku adalah es batu, mungkin saat ini aku sedang mencair
secair-cairnya. Pernyataan itu memang telah lama aku mengetahuinya, namun tetap
menyesakkan begitu mendengarnya secara langsung.
“Maafkan
aku dan cobalah melupakanku,” aku sempat merasakan ia menepuk punggungku
sebelum ia benar-benar meninggalkanku. Wajahku sontak memandangnya, memandang
punggunggnya yang semakin jauh, memandangnya yang pergi entah kemana.
Aku
hanya bisa memeluk lututku dan menenggelamkan wajahku kedalamnya. Sungguh, I’m
lost without you.
The things that you had given me.
They are
resurrected by your smile.
From now and
forever.
I’m wishing that
one day, I will encounter you again.
I’m lost without you
~ppyong :*