Sabtu, 13 Agustus 2011

Dementor friend

Annyeong Latte,
Tiap guaa ngeliat blog guaa ini, guaa jdi kepengen nyoba latte :9
#abaikan

Oya, gua mau ngepost cerpen nih ...
karakter disini masih pake abjad, abis guaa bingung mau ngasih nama apa .. hahaha
ywdh nih guaa kasih tau deh ..
A , B , C , D , E , F = Sahabat si tokoh aku (perempuan)
L = perempuan (cuma figuran kok, abaikan saja)
X = lelaki (kok lelaki? udah tua? sebenernya masih SMA sih ceritanyaa...)
Udah ngerti?
Ywdh ...

ENJOY IT ...



                “Fa~ makan yuk..” kira-kira sekitar 3 remaja perempuan meneriakkan hal itu di pintu kelasku. Aku segera berjalan menghampiri mereka dan meninggalkan kegiatanku yang sedang asyik membaca novel ini.
                “Yuk” kataku sambil tersenyum. Saat kami berjalan menuju kantin, aku merasa mendengar bisikan ‘cih! Senyuman palsu’ yang akhirnya aku hiraukan saja.
                “Bu~ nasi uduk satu yaa” pesanku pada ibu kantin.
                “Bu~ mie nya dua yaa”
                “Soto nya 4 yaa Bu.” Yaa kurang lebih itulah daftar pesananku dan teman-temanku yang berjumlah 6 orang ini.
                “Fa, ini nasi uduknya~” kata ibu kantin yang memang sudah mengenal kami menyerahkan sepiring nasi uduk yang penuh dengan kerupuk kesukaanku. Satu kerupuk, dua kerupuk, tiga kerupuk, teman-temanku mulai mengambil kerupuk yang ada dipiringku ini. Ternyata mereka masih baik padaku dengan menyisakan 3 kerupuk yang kecil dipiringku. Kerupuk adalah kesukaanku, aku tak bisa makan kerupuk dan sekarang mereka mengambilnya. Dadaku sesak, memang begini rasanya bila makan sambil menahan tangis. Aku berusaha untuk makan sesegera mungkin dan pergi meninggalkan orang-orang yang mengaku sebagai sahabatku ini.
                “Bu, ini uang saya pas. Aku ke kelas duluan yaa..” kataku sambil menyerahkan uang pada ibu kantin dan berpamitan pada teman-temanku. Bukan teman-temanku yang sudah mengambil kerupukku, tapi teman-temanku yang lain yang juga sedang makan di kantin ini. Aku berjalan menuju kelasku dengan dada yang masih sesak.
                “Cih! Masih saja bermuka dua..” terdengar suara itu lagi. Kali ini aku tidak menghiraukannya, aku mencari sumber suara itu dan aku menemukannya.
                “Hai X~” kataku sambil tersenyum pada orang yang sudah mengataiku senyum palsu dan muka dua itu. Dia adalah X, siswa seangkatanku yang sedang aku sukai dan dia adalah idola disekolah ini.
                “Cih! Sudah ketangkap basah, masih saja bermuka dua.” Kata X ketus.
                “What? Apa maksudmu?” kataku dengan sedikit nada tinggi. Ya walaupun dia cowok yang aku suka, tapi dia tetap tidak berhak berkata seperti itu padaku.
                “Cih! Sebenarnya kamu malas banget kan mengikuti teman-temanmu yang ingin makan itu karena kamu sedang asyik membaca novel, kamu juga kesal banget kan saat teman-temanmu mengambil kerupukmu. Dan satu lagi, kamu merasa mereka bukan sahabat yang pengertian kan?” jelas X yang hanya membuatku tertegun. Dari mana dia tahu?
                “Hhh (tersenyum sinis), bukankah kamu juga bermuka dua? Didepan guru-guru dan yang lainnya kamu begitu baik dan ramah, tapi di hadapanku kamu bukanlah X yang begitu.” Kataku kesal sambil berlalu pergi menuju kelas.
                “Hmm, suatu saat kamu akan menyadari bahwa X yang kamu sukai adalah X yang seperti ini” kalimat itu sempat terdengar di telingaku. Apa maksud kalimatnya itu? Mengapa aku harus menyukai X yang begitu ketus dan mengataiku Muka Dua Bersenyum Palsu?
                “Lho? Fa? Sedang apa di kelas sendirian?” Tanya A, salah satu temanku yang mengambil kerupukku. Ternyata mereka sudah selesai makan.
                “Nenangin diri~” kataku sepelan mungkin agar tidak terdengar oleh mereka.
                “Apa?” Tanya B merasa mendengar aku mengatakan sesuatu pada mereka. Ternyata telinganya tajam juga.
                “Ah, tidak~” kataku sambil tersenyum, “Dimana D?”
                “D? Diluar. Keluar yuk~” kata F menarik tanganku dan mengajakku keluar.Begitu kami keluar dari kelas, ternyata D sedang bercanda tawa dengan L.
                “Hai kak,” kata L menyapa kami dan kemudian melanjutkan mengobrol dengan D yang membuat kami seakan diacuhkan. Fyuh, aku selalu ingin memiliki sahabat yang dapat menghiburku bila aku sedang bete dengan keenam teman yang mengaku sahabatku ini. Dan kenapa D yang mendapatkannya? Kenapa bukan aku saja?
                “Kyaa~~ X~~” teriakan siswi-siswi itu memang selalu menggema begitu X terlihat. Biasanya aku akan ikut berteriak, namun sekarang aku malas sekali melihatnya. Sayangnya, X malah berjalan kearah kami.
                “Muka dua bersenyum palsu yang ternyata juga suka iri,” bisiknya perlahan begitu melewatiku.
Aku tertegun dan segera menengok ke arahnya. X hanya tersenyum penuh makna begitu sadar bahwa aku sedang melihatnya. Ish, Senyum yang dulu sangat ku damba sekarang menjadi senyum yang sama sekali tidak aku harapkan.
                “Cih, dasar muka dua~” umpatku untuknya.
                “Siapa?” E menepuk pundakku.
                “Siapa apanya?” tanyaku heran.
                “Siapa yang muka dua?” Tanya E lagi.
                “Ah, Tidak..” kataku sambil tersenyum dan mengalihkan pembicaraan, “Eh, pulang sekolah main yuk,”
                “Males ah, I don’t have enough money and time.” Kata D sambil tersenyum garing diikuti dengan anggukan dan dukungan dari yang lainnya. Aku hanya bisa menunduk kecewa.
                “Eh, Fa, nanti tungguin aku yaa. Aku mau les kimia dulu sebentar..” kata C yang hanya kurespon anggukan.

***

                Waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 siang tanda waktu pulang telah tiba. Setiap anak sudah bersiap untuk pulang bahkan sebagian dari mereka sudah berlari keluar kelas. Sedangkan aku? Aku hanya menunggu C di depan kelas.
                “Ish, Lama banget sih mereka.” Dumelku.
                “Hai, Si muka dua bersenyum palsu yang suka iri~ sedang nunggu sahabatmu?” kata X yang tiba tiba sudah berada di depanku sambil menekan kata SAHABAT.
                “Ngapain kau disini? Kau tidak bersama dengan bodyguard mu itu?” aku balik nanya dengan nada jutek sambil menekan kata BODYGUARD.
                “Cih, Ayo!” katanya lagi sambil menarik tanganku yang sontak membuatku tertarik.
                “Mau kemana?” tanyaku sambil mencoba melepas genggaman tangannya.
                “Ikut saja. Sekarang kamu beritahu sahabatmu kalau kamu tidak bisa pulang bareng” katanya sedikit halus namun tetap menekan kata SAHABAT.
                “Ta.. tapi…” kataku terbata bata.
                “Aku akan mengantarmu pulang sampai depan rumahmu..” kata X memotong perkataanku.
                “Really?? You’re so kind X~” kataku senang. Ternyata pengetahuannya akan diriku membawa keuntungan tersendiri bagiku.
                “Cih, aku sudah tahu belangmu, jadi hentikan sikap sok manis dan seakan tidak terjadi apa apa mu itu” kata X sambil tetap menatap lurus kedepan. Aku tidak mengerti apa maksudnya, namun aku tidak mengindahkannya dan segera mengirim SMS pada C.
                “Ish, HP itu gunanya untuk komunikasi lho. Untuk apa punya HP kalau tak bisa dihubungi!” umpatku kesal karena SMS untuk C selalu pending dan HP nya ternyata tidak aktif.
                “Kenapa?” Tanya X melihat kearahku.
                “Ah, tidak.” Kataku sambil tersenyum berharap dia tidak mendengar umpatanku tadi.
                “Sudah kubilang, aku sudah tahu belangmu, jadi hentikan sikap sok manis dan seakan tidak terjadi apa apa mu itu” katanya sedikit kesal. Terlihat sekali bahwa dia kesal padaku karena dia membukakan pintu mobilnya untukku dengan sedikit kasar.
                Selama di perjalanan, keheningan menyelimuti disekitar kami. Sepertinya X masih kesal denganku dan aku tidak tahu harus berkata apa. Aku takut aku malah akan memperburuk keadaan.
                “Kita sudah sampai..” kata X memecah keheningan itu. Aku hanya dapat bernapas lega.
                “Ini dimana?” tanyaku heran.
                “Sudah ikut saja..” kata X sambil berjalan meninggalkanku. X masih kesal padaku rupanya. Biarkan saja, aku juga kesal padanya. Dia telah mengatai muka dua bersenyum palsu yang suka iri dan sekarang dia mengajakku ke tempat yang aku tidak tahu dimana kemudian meninggalkanku.
                “Hei Bro~” teriak X yang sontak membuatku berhenti untuk melihat siapa yang dipanggil X. Aku segera berjalan mendekati X dan berdiri disebelah X sambil tersenyum manis.
                “Hei X. Siapa ini? Pacarmu yaa?” Tanya lelaki yang termasuk pendek tapi memiliki suara yang sangat halus.
                “BUKAN!” kata X tidak setuju dengan perkataan temannya itu.
                “Hai” Kataku memperkenalkan diri sambil menundukkan tubuhku.
                “Hai, kami teman-temannya X yang ganteng-ganteng bukan?” kata mereka
                “Hahahaha, Tidak usah berlebihan seperti itu. Anak kecil juga tahu kalau kalian kePDan” Tawa X sambil memandang kearahku.
                “hei, kau suka kan?” Tanya salah satu dari mereka sambil sedikit mencoleh bahuku.
                “suka apa?” tanyaku heran.
                “Kau menyukai X kan?” Tanyanya lagi. Aku hanya menundukkan kepalaku. Aku bingung ingin menjawab apa. Memang aku menyukai X dan aku sangat berharap bisa menjadi pacarnya tapi itu tidak lagi sejak aku mengetahui sifat aslinya ini.
                “Hahaha, Sudahlah. Fa memang menyukaiku hahaha. Uhm, dimana kue ku?” Tawa X yang sontak membuatku memandangnya dengan tatapan apa-maksud-mu.
                “Kau tanyakan saja dimana kue mu  itu pada dia.” Kata lelaki yang bertanya padaku tadi melirik ke arah lelaki yang pendek dengan tatapan mati-kau. Aku hanya bisa tertawa melihat mereka yang memang seperti dugaanku, kecuali X.
                “Hei! kau tahu kan kalau aku sangat menyukai kue itu !” Blek, kata-kata X itu mengingatkanku pada sesuatu. Drrtt.. tiba tiba HP ku bergetar tanda ada telpon yang masuk. Aku segera mengambil HP dan melihat siapa yang menelponku.
                “Hallo?”
                “Fa, kau dimana? Kami mau karaokean nih”
                “Apa? Karaokean? Tadi aku ajak main, kalian tidak mau.”
                “Iya, sekarang aku sedang paleng dan aku mau karaokean. Sekarang kamu dimana?”
                “Aku sedang ada urusan!”
Klik, aku mematikan telponku. “Kenapa malah dia yang marah? Seharusnya aku yang marah. Tadi aku mengajak mereka main tapi mereka bilang males. Sekarang mereka mau karaokean saat D yang mengajak? Kenapa selalu D? Bila aku mati bersamaan dengan kematian D, pasti mereka lebih memilih melayat D!” umpatku kesal.
                “Fa, baik baik saja kan?” Tanya teman-teman X. Aku lupa kalau aku sedang bersama dengan mereka.
                “Ah, iyaa~” Kataku pelan sambil tetap memaksakan untuk tersenyum. Sekuat apapun aku memaksa untuk tersenyum, aku tidak bisa menahan air mataku keluar dan membasahi pipiku. Entah kenapa aku sudah tidak tahan lagi menghadapi mereka. Seketika itu, ada yang menutupiku dengan sebuah jaket dan membawaku pergi. Aku ingat harum jaket ini, aroma ini selalu tercium saat aku bersama dengan … X.
                “Hmm, kau bisa nangis juga ternyata? Aku kira kau selalu berlindung dibawah senyum palsumu itu,” kata X mengejek sambil membuka jaket itu dan mendudukkanku pada sebuah sofa. Tangannya terus membelai rambutku agar aku merasa tenang. Namun, bukannya mereda, tangisanku semakin menjadi-jadi apalagi ditambah dengan ejekan X.
                “Sudahlah, kenapa kau tidak katakan yang sesungguhnya pada teman-temanmu itu. Mereka pasti akan mengerti.” Kata X mendorong tubuhku ke pelukannya. Aku mendorong X sekuat tenaga hingga aku terlepas dari pelukannya.
                “Mengerti apa? Mengerti bahwa aku iri dengan sang DEMENTOR itu?” kataku sedikit membentak.
                “Dementor? Wah, kau bahkan sudah menjulukinya dementor. Memang apa saja yang telah direbut olehnya?” Tanya X sambil tertawa. Disaat begini, dia masih saja sempat mengejekku.
                “Hei!! Kau tau Dementor kan? Si Penghisap Kebahagiaan! Dia itu telah merebut semua kebahagiaanku. Sahabatku.. Keinginanku..” kataku menangis lebih keras dan terisak isak.
                “Semua? Kebahagiaanmu yang ada didepanmu ini tidak direbut olehnya..” katanya serius , tidak seperti tadi yang mengejekku.
                “Apa?” kataku sambil tertawa. Setelah sekian lama mendengar dia mengejekku, sekarang dia bicara dengan wajah yang serius dan itu sangat lucu.
                “Akhirnya kau tertawa lagi, dan untungnya itu tawa aslimu bukan tawa maupun senyum palsu yang sering ku lihat itu.” Kata X sambil mengacak rambutku dan berjalan meninggalkanku.
                “Hei!! Kau yang membawaku kemari dan sekarang kau meninggalkanku begitu saja??” kataku kesal sambil mengejarnya.

To Be Continued ... 

~ppyong :*

0 komentar:

Posting Komentar