51 menit 47 detik ~
Durasi yang cukup lama untuk hanya sekedar berkata suka.
Lelaki itu dengan seenaknya menelponku begitu aku berpesan
bahwa SMS itu tidak seru karena tidak ada ekspresinya. Tidak kah ia tau betapa
jantungku berdebar begitu melihat panggilan darinya. Berusaha mengurangi
sedikit grogi, aku pun menerima panggilan itu. Tak tanggung-tanggung, aku
segera memprotes panggilan telpon itu padanya. Ia pun hanya menjawab dengan
menyebutkan pesanku mengenai SMS yang tidak seru itu.
Aku nunggu lho~
Kalimat itu sukses membuat jantungku berdetak berkali-kali
lipat dibanding biasanya. Aku pun hanya bisa tertawa menutupi rasa grogiku. Ia
pun bertanya mengapa aku tertawa. Dengan jujur akupun mengaku bahwa aku grogi.
Kini tawa terdengar dari seberang telpon. Ia menertawakanku.
Jadi siapa?
Aku cukup yakin bahwa ia telah mengetahui semuanya. Betapa
menyebalkannya ia kini memaksaku untuk mengakatannya. Setelah menghela napas
beberapa kali, aku pun berkata bahwa cewek itu adalah diriku. Aku kira ia hanya
akan ber-o ria dan dugaanku itu salah. Sepertinya ia ingin memperjelas semuanya
dan menyuruhku menyebutkan namaku.
Itu bukanlah alasan!
Saat aku berkata
bahwa tidak perlu alasan untuk menyukai seseorang, ia pun segera memotong
dengan mengatakan bahwa itu bukanlah alasan. Pikiranku segera memutar balik
menuju segala kejadian lampau, saat pertemuan pertamaku dengannya. Sambil
membayangkan kejadian itu, mulutku menceritakan segalanya padanya.
Responnya?
Kini ia memaksaku untuk bertanya padanya. Satu pertanyaan
yang sangat ingin aku tanyakan padanya. Sayang mulutku tak dapat mengatakannya.
Sepertinya ia mengetahui pertanyaan apa yang ingin aku tanyakan hingga ia pun
berkata, “katakan saja. Mungkin kau tidak akan mendengar jawabannya sekarang,”
Aku pun tidak jadi mengeluarkan pertanyaan itu, aku hanya bertanya apa
responnya setelah mengetahui semua ini. Ia berkata bahwa ia senang-senang saja.
Apakah ini harapan untukku? Atau hanya mengangkatku sementara.
Tak ada yang bisa merubahku.
“Tenang saja, aku tidak akan berubah dan menjauhimu. Tak ada
yang bisa merubahku, apalagi hanya karena ini. Aku ragu kamu yang akan berubah
dan menjauhiku,” kalimat-kalimat itu seakan menghipnotisku untuk membayangkan
apa yang akan terjadi dikemudian hari. Aku juga ragu akan hal itu.
Cemburu? Tidak! Hanya sedikit kesal.
Sungguh betapa menyebalkan mengingat saat ia duduk berdua
dengan adik kelasnya dulu dan mengobrol dengan asyiknya. Dan ia mengungkitnya.
Ia bertanya padaku apakah aku cemburu. Cemburu? Tidak! Hanya sedikit kesal.
Dengan sedikit tawa terdengar ia berkata, “ooh, kesal yaa?” Betapa
menyebalkannya lelaki itu.
“Berarti aku telah menyakiti perasaanmu yaa,” Kalimat itu
sukses membuatku terdiam. Apa maksud ia berkata demikian?
Kangen?
Ada sebuah jarkom yang mengajak untuk membuat acara
berkumpul lagi. Ia mengeluh bahwa membuat acara itu tidak gampang. Ia juga
sempat mengeluhkan biaya acara try out kemarin padaku. Aku tak ingin membuatnya
mengeluh terus dengan berkata dengan santai, “yaudah lah bikin aja seadanya,”
Keluhannya memang berhenti, namun ia malah mengejekku,”hahaha, ga sabar pengen
ketemu aku yaa. Udah kangen tah?” Betapa
menyebalkan!!
Lelaki ini memang unpredictable. Kadang ia bercanda kadang
ia serius. Ia bisa membuatku mengobrol sepanjang hari dan ia juga pernah mendiamkanku.
Apapun perasaannya padaku, aku hanya bisa berharap ia tidak akan pernah berubah
dan menjauhiku seperti yang ia katakan.
LIFE IS NEVER FLAT.
Your story is flat? When your feeling is expressive, you can
make that story become a rainbow ^^
~ppyong