Sabtu, 09 Maret 2013

51 Menit 47 detik


51 menit 47 detik ~
Durasi yang cukup lama untuk hanya sekedar berkata suka.

Lelaki itu dengan seenaknya menelponku begitu aku berpesan bahwa SMS itu tidak seru karena tidak ada ekspresinya. Tidak kah ia tau betapa jantungku berdebar begitu melihat panggilan darinya. Berusaha mengurangi sedikit grogi, aku pun menerima panggilan itu. Tak tanggung-tanggung, aku segera memprotes panggilan telpon itu padanya. Ia pun hanya menjawab dengan menyebutkan pesanku mengenai SMS yang tidak seru itu.

Aku nunggu lho~

Kalimat itu sukses membuat jantungku berdetak berkali-kali lipat dibanding biasanya. Aku pun hanya bisa tertawa menutupi rasa grogiku. Ia pun bertanya mengapa aku tertawa. Dengan jujur akupun mengaku bahwa aku grogi. Kini tawa terdengar dari seberang telpon. Ia menertawakanku.

Jadi siapa?


Aku cukup yakin bahwa ia telah mengetahui semuanya. Betapa menyebalkannya ia kini memaksaku untuk mengakatannya. Setelah menghela napas beberapa kali, aku pun berkata bahwa cewek itu adalah diriku. Aku kira ia hanya akan ber-o ria dan dugaanku itu salah. Sepertinya ia ingin memperjelas semuanya dan menyuruhku menyebutkan namaku.

Itu bukanlah alasan!

 Saat aku berkata bahwa tidak perlu alasan untuk menyukai seseorang, ia pun segera memotong dengan mengatakan bahwa itu bukanlah alasan. Pikiranku segera memutar balik menuju segala kejadian lampau, saat pertemuan pertamaku dengannya. Sambil membayangkan kejadian itu, mulutku menceritakan segalanya padanya.

Responnya?

Kini ia memaksaku untuk bertanya padanya. Satu pertanyaan yang sangat ingin aku tanyakan padanya. Sayang mulutku tak dapat mengatakannya. Sepertinya ia mengetahui pertanyaan apa yang ingin aku tanyakan hingga ia pun berkata, “katakan saja. Mungkin kau tidak akan mendengar jawabannya sekarang,” Aku pun tidak jadi mengeluarkan pertanyaan itu, aku hanya bertanya apa responnya setelah mengetahui semua ini. Ia berkata bahwa ia senang-senang saja. Apakah ini harapan untukku? Atau hanya mengangkatku sementara.

Tak ada yang bisa merubahku.

“Tenang saja, aku tidak akan berubah dan menjauhimu. Tak ada yang bisa merubahku, apalagi hanya karena ini. Aku ragu kamu yang akan berubah dan menjauhiku,” kalimat-kalimat itu seakan menghipnotisku untuk membayangkan apa yang akan terjadi dikemudian hari. Aku juga ragu akan hal itu.

Cemburu? Tidak! Hanya sedikit kesal.

Sungguh betapa menyebalkan mengingat saat ia duduk berdua dengan adik kelasnya dulu dan mengobrol dengan asyiknya. Dan ia mengungkitnya. Ia bertanya padaku apakah aku cemburu. Cemburu? Tidak! Hanya sedikit kesal. Dengan sedikit tawa terdengar ia berkata, “ooh, kesal yaa?” Betapa menyebalkannya lelaki itu.
“Berarti aku telah menyakiti perasaanmu yaa,” Kalimat itu sukses membuatku terdiam. Apa maksud ia berkata demikian?

Kangen?

Ada sebuah jarkom yang mengajak untuk membuat acara berkumpul lagi. Ia mengeluh bahwa membuat acara itu tidak gampang. Ia juga sempat mengeluhkan biaya acara try out kemarin padaku. Aku tak ingin membuatnya mengeluh terus dengan berkata dengan santai, “yaudah lah bikin aja seadanya,” Keluhannya memang berhenti, namun ia malah mengejekku,”hahaha, ga sabar pengen ketemu aku yaa. Udah kangen tah?”  Betapa menyebalkan!!

Lelaki ini memang unpredictable. Kadang ia bercanda kadang ia serius. Ia bisa membuatku mengobrol sepanjang hari dan ia juga pernah mendiamkanku. Apapun perasaannya padaku, aku hanya bisa berharap ia tidak akan pernah berubah dan menjauhiku seperti yang ia katakan.

LIFE IS NEVER FLAT.
Your story is flat? When your feeling is expressive, you can make that story become a rainbow ^^ 

~ppyong