Malam itu aku hanya terdiam
di kamarku.
Menatap sendu laptopku sambil
memakai headset.
Sengaja aku membesarkan
volume mp3 di laptopku.
Sesekali mataku beralih pada
sebuah handphone yang tergeletak disamping laptopku.
Tanganku segera mengambilnya
begitu ia bergetar.
Ddrrttt..
Dengan sigap aku mengambil
handphone itu.
Membacanya perlahan dan
membalasnya.
Mungkin ia menyadari keanehan
itu dan mulai bertanya ada apa.
Aku hanya menjawab bahwa aku hanya
ingin keluar.
Ia menurutiku dan segera
menjemputku.
Aku melihatnya.
Ia melihatku dan melambaikan
tangannya.
Aku hanya tersenyum dan
menghampirinya.
Sepi.
Itulah suasana saat itu.
Yang terdengar hanyalah suara
hujan rintik-rintik yang membasahi jalan.
Aku sedang tak ingin bicara
dan sepertinya ia mengerti itu.
Setelah beberapa lama, ia pun
mulai berbicara.
“Teriaklah.. Teriakkan semua
uneg-unegmu,”
Aku pun hanya memelototinnya
seakan berkata “apa kau gila?”
Diam.
Suasana kembali hening.
Hingga kami tiba di tempat
yang dituju, warteg nasi goreng.
Seperti biasa, kami duduk
bersebelahan.
Ia memesankan pesanan kami
dan aku hanya menatap jalan.
“kau bisa cerita padaku kalau
kau mau,” suara itu cukup membuatku menoleh padanya.
Aku pun mulai bercerita
padanya walaupun hanya singkat.
Seakan mengerti ia pun
berkata, “hanya itu? Ku yakin masih ada lagi yang ada dipikiranmu,”
Aku pun hanya menyembunyikan
kepalaku diatas meja itu, “intinya begitulah,”
“Makanya jadi orang jangan
kepo tingkat tinggi,” ucapan itu sukses membuatku mengangkat kepalaku dan
menatapnya, “apa maksudmu?”
Ia tersenyum seakan mengejekku
yang membuatku mendorongnya, “dasar nyebelin,”
Sambil berusaha
menyeimbangkan posisi duduknya yang rawan jatuh akibat doronganku, ia tersenyum
padaku.
Bukan senyuman ejakan seperti
sebelumnya.
”Biarin nyebelin, seenggaknya
kau bisa tertawa lagi,”
Kalimat itu… sukses membuatku
membeku sesaat.
Tak bisa ku pungkiri,
senyumku kembali mengembang saat itu..
Benar, senyuman bisa
mengobati segalanya J
Terima Kasih telah
mengingatkanku J